KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Saran-Saran untuk Blogger Pemula yang Ingin Menjadi Publisher Adsene

Bagi blogger pemula, diterima sebagai publisher adsense adalah kebahagiaan yang tiada tara. Seakan rencana ngeblog yang disusun bersusah-payah terbayar lunas seketika. Seakan itu adalah kemenangan yang diraih setelah perjuangan berdarah-darah sebelumnya, perjuangan untuk menulis secara rutin, riset bahan untuk konten, membangun backlink, menyebarkan tulisan di media sosial, dan sebagainya.

Pikiran seperti itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, ketika kita berhasil mendaftar adsense, tidak serta merta akun kita kebanjiran uang. Diterima adsense sebetulnya adalah fase baru yang justru perjuangannya membutuhkan energi yang lebih besar. Kita harus membangun trafik kunjungan yang lebih besar sekaligus rajin menulis agar bisa segera meraup untung.

Saya termasuk orang yang malas mengurus adsense karena saya tidak punya energi untuk itu. Karena kemalasan itulah, saya hanya mendapatkan dua kali gajian selama hampir empat tahun. Benar, empat tahun. Blog saya waktu itu memang masih sedikit kontennya dan pengunjungnya juga masih minim, ditambah lagi dengan keengganan saya untuk menulis. Jadilah saya blogger kacangan.

Dari pengalaman bertahun-tahun itu, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para publisher adsense yang tergolong pemula. Berikut ini adalah poin-poinnya.

Ngebloglah dengan enjoy

Benar, kita harus enjoy. Kalau kita merasa tertekan dengan aktivitas ngeblog, sebaiknya kita perlu berpikir apakah pilihan tema (niche) blog kita sudah sesuai dengan kegemaran kita atau tidak. Jika tidak sesuai, maka dari sanalah sumber masalahnya.

Ingat, ngeblog adalah untuk jangka panjang. Jika kita merasa terus tertekan sepanjang kita ngeblog, betapa berat hidup kita. Sebagian besar blogger yang merasa tertekan dengan hal itu biasanya cepat gantung komputer (alias pensiun dini). Blognya dibiarkan menjadi sarang spiderman.

Jangan bergantung pada google adsense

Ketergantungan bisa menyebabkan kita patah hati. Saat kita mencintai seseorang dan orang tersebut memilih orang lain untuk dicintai, bagaimana perasaan kita? Sakit kan? Nah, begitu pula saat kita menggantungkan hidup hanya pada adsense semata. Ketika blog kita tidak diterima adsense, kita akan merasa putus asa. Seakan-akan hidup sudah berakhir. Padahal ada penyedia iklan lain yang bisa kita ambil dan lebih mudah untuk diterima. Misalnya, adnow.com. Memang bayarannya tidak sebesar adsense, tapi lumayanlah ketimbang tidak ada pemasukan sama sekali.

Intinya, kalau kita ngeblog hanya untuk adsense, ketika kita ditolak, kemungkinan untuk menelantarkan blog kita akan besar.

Jangan terburu-buru

Terburu-buru itu pekerjaan setan, kata orang-orang. Terburu-buru dalam berburu adsense tidak baik untuk keberlangsungan aktivitas ngeblog kita. Kesusu biasanya akan membuat blogger menggunakan segala cara agar blognya banyak dikunjungi orang. Kadang sampai lupa bahwa google punya TOS atau aturan yang tidak boleh dilanggar oleh publisher.

Karena ingin segera mendapatkan penghasilan yang banyak, mereka membuat postingan-postingan yang heboh dan vulgar. Kita tahu, postingan-postingan yang semacam itu banyak diminati oleh pembaca, tapi kita harus tahu juga bahwa hal semacam itu dibenci oleh adsense. Jika kita melanggar aturannya, tidak menutup kemungkinan akun kita akan diblokir. Kalau sudah diblokir, kita akan gigit jari...jari kaki.

Penyair Kampung Kami

Sore itu kami datang ke sebuah rumah di batas kampung dengan sebundel puisi di tangan masing-masing. Kami baru saja dari rental print dengan perasaan bangga, kami punya karya dan kami adalah penyair.

Orang yang kami tuju sedang menyedot rokok lintingan di teras rumahnya. Asapnya yang pekat merimbuni kumis dan jenggotnya yang tebal. Di kampung kami, dia dikenal sebagai penyair hebat, meskipun tak ada karyanya yang pernah dimuat media. "Apakah karya seseorang harus dimuat media dulu baru bisa disebut penyair? Tolol". Itu pertanyaan yang sekaligus semburan si penyair kampung kami kepadaku suatu ketika, saat kami mengobrol di sore yang lain.

Penyair kampung kami ini sudah berumur 50-an tahun. Ia menjomblo dan merasa itu adalah bagian dari sebuah puisi. "Aku mencintai seorang perempuan dan ia kini sudah bersuami. Aku ingin menjalani hidup ini dengan tetap menyimpan cinta kepadanya, meskipun ia tak bersamaku. Kupikir itu adalah puisi terbaik yang harus kusimpan baik-baik," katanya suatu ketika. Mendengarnya aku tahu bahwa ia ternyata orang yang melodramatis, jauh dari kesan saat ia menghakimi puisi-puisi kami.

Sore itu kami dipersilahkan duduk. Ia masuk ke dalam rumahnya sebentar, lalu keluar dengan membawa segelas kopi berukuran besar.

"Joinan saja. Penyair tak boleh egois," katanya, mengisyaratkan kami untuk minum kopi dalam satu gelas.

"Banyak sekali puisimu," kata si penyair kampung kami kepada teman saya yang menyodorkan sebundel puisi.

"Iya, Bang. Sedang banyak inspirasi. Hehe."

Temanku itu memang sedang kasmaran. Wajar jika ia bisa menimbun banyak puisi dalam waktu singkat. Itu kelaziman yang tak bisa ditolak bangsa manusia.

Penyair kampung kami membuka-buka bundelan kertas itu, membacanya sekilas-sekilas seperti orang dinas memeriksa proposal, lalu menatap ke arahku.

"Punya kau mana?"

"Ini, Bang." Kusodorkan karyaku dengan perasaan harap-harap cemas, sebuah kondisi yang terus berulang saat kuserahkan karyaku kepada lelaki itu.

Beberapa saat setelah membaca karyaku, penyair kampung kami menatap tajam ke arah kami berdua. Temanku tampak takzim, seperti ajudan bupati yang baru saja mendapat rapor merah.

"Kalian ini bukan menulis, tapi berak." Itu ucapan singkat yang memorak-porandakan pendirian kami. Aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan oleh seorang sastrawan terkenal kepada fans-nya yang calon penulis, tapi aku lupa namanya.

Kami pulang dengan gerundelan masing-masing. Temanku tampak seperti patah hati, tapi ia mencoba tegar.
Meskipun selalu dibantai habis, kami tetap merasa perlu datang lagi kepada penyair kampung kami. Di sore beberapa hari berikutnya, temanku mengajak kembali untuk berkunjung kepadanya.

"Aku ingin menyerahkan ini," katanya sambil tersenyum.

Ia memperlihatkan lima puisinya yang terbit di sebuah koran. Kurasa ia datang bukan dengan niat mengoreksikan karyanya, melainkan ingin mempecundangi penyair kampung kami. Ia ingin katakan bahwa ungkapan-ungkapan sarkastisnya selama ini salah besar.

Saat sampai di rumah si penyair, temanku menyerahkan lembaran koran tersebut. Lelaki itu membacanya dengan tekun, lalu manggut-manggut. Bola mata temanku berbinar bahagia menyaksikan gerakan kepala itu. Ia pasti merasa si penyair menyukainya. Si penyair tetap membaca sebelum akhirnya berkata, "Kau itu tetap berak. Bedanya, kalau kemarin kau cuma berak di hadapanku, kini kau berak di hadapan banyak orang."

Sejak saat itu kami putuskan untuk tidak menjadi penyair. Aku memilih menjadi kuli bangunan dan temanku memilih mengangon kambing.

Asal Mula Rahmatullah



Konon Rahmatullah itu terbuat dari telur cecak. 

Suatu sore yang gerimis, Raja Xajiskac Hakejalsjh dari kerajaan Dksiba yang memerintah pada 2018362 Sebelum Masehi, memanggil para pelayannya.

"Siapa di antara kalian yang bisa membuatkanku roti paling enak dari bahan-bahan yang tidak pernah dibuat sebelumnya?"

Kepala para pelayan tetap tertunduk, tanda tak mampu dan tak paham keinginan sang raja. Namun, tiba-tiba ada satu pelayan yang memecah keheningan.

"Kami tidak paham maksud Tuan," katanya.

"Tidak perlu ditafsiri yang aneh-aneh, Gajsyhakgsej. Aku hanya ingin mencicipi roti yang tidak biasa. Aku bosan dengan roti-roti yang ada. Aku ingin di antara kalian ada yang membuatkannya untukku," kata sang raja kepada pelayan itu.

"Kalau begitu, biar masing-masing kami membuatkannya untuk raja. Nanti Raja tinggal memilih mana yang paling disukai."

"Baiklah, kalau begitu."

Para pelayan mulai mencari ide untuk roti yang aneh itu. Betapa sulitnya. Bahan-bahannya juga sulit didapat karena nyaris semua bahan roti sudah pernah dibuat. Sebagian pelayan sampai harus bertapa di selangkangan kuda. Sebagian yang lain di loteng kamar mandi.

Akhirnya, tibalah waktu untuk menyuguhkan roti itu kepada raja. Para pelayan datang dengan nampan berisi roti khas masing-masing. Raja mulai mencicipi satu per satu roti itu.

Di antara sekian roti yang dijejer di atas meja panjang, roti buatan Kajrlshbajsmah lah satu-satunya yang membuat raja tertarik. Roti itu berbentuk gundukan kecil mirip celatong sapi. Di ujungnya yang lancip, terdapat telur cecak berumur 3 hari. Bahan utama roti tersebut adalah serbuk pohon bambu.

Saat mencicipi roti tersebut raja langsung jatuh hati. Ia segera memakannya dengan lahap. Matanya mengerjap-ngerjap keenakan.

Namun, saat mengunyah telur cecak mentah tersebut, mulut raja terasa ada yang aneh. Ada benda yang bergerak-gerak. Gerakan itu makin lama makin kuat. Akhirnya raja pun memuntahkannya.

Raja kaget. Para pelayan pun kaget. Benda itu menggeliat-geliat di tanah. Makin lama makin mengembang dan semakin mirip manusia. Seisi istana gempar menyaksikan bayi mungil itu tampak jelas dan nyata.

Genap 450 tahun, bayi itu lalu diberi nama Rahmatullah.

Sebuah Pagi yang Kampret

Aku tidak suka kopi. Aku menyukai kerupuk. Apa boleh buat. Selera orang tidak harus sama, bukan? Sebagian di antara kalian mungkin ada yang menyukai kucing dan sebagian yang lain malah sebaliknya. Benci sebenci-bencinya. Begitulah. Dunia ini dipenuhi perbedaan-perbedaan. Sebab, kalau seragam itu namanya paskibra.

Tiap pagi, sebelum membuka laptop, teman terbaikku adalah kerupuk. Pagi itu pun demikian. Kerupuk tersebut sisa kemarin yang belum habis termakan oleh anak. Aku dan istri biasa menyisakannya untuk anak kami yang ajaibnya mewarisi tabiatku sebagai pemangsa kerupuk. Keluarga kami memang menyukai kerupuk. Aku berharap bisa mewariskannya hingga tujuh turunan.

Pagi itu, sambil mengunyah kerupuk kubuka jendela dengan perasaan malas. Aku berharap percik sinar matahari yang menelusup lewat celah-celah jendela mampu menghangatkan kepalaku, sehingga memantik ide-ide untuk menulis. Hari ini adalah hari ke-27 aku mencari gagasan untuk membuat sebuah novel.

Baca Juga: Menulis itu Sulit, Kentut yang Mudah

Sebenarnya, itu sudah menjadi rutinitasku tiap pagi. Membuka jendela, memanaskan kepala, dan mematung di depan laptop. Hingga kerupuk habis dan pagi hilang percuma, kepalaku tetap buntu. Tak ada ide yang bisa kutuliskan.

Pernah seorang teman menyarankan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum membuka laptop. Kuikuti sarannya. Tapi kegiatan itu malah membuatku keenakan jalan-jalan. Tambah lagi banyak orang jualan gorengan sepanjang jalan. Nurani saya tak tahan godaan. Habis sudah sisa waktu hanya untuk melumat tahu isi dan bulud yang hangat dan menghanyutkan.

Menulis novel adalah cita-citaku yang belum kesampaian. Sudah bertahun-tahun keinginan itu kusimpan dalam kepala. Entah ia akan bertahan sampai kapan. Aku akan terus mengikuti ritmenya, mungkin sampai aku tua nanti. Mudah-mudahan tak sebatas keinginan belaka.

Laptop di depanku tetap dengan tiga kalimat. Seperti menjadi kebiasaan, aku kesulitan mencari kata yang pas sebagai penyambungnya. Kepalaku tetap beku. Aku berdiri dari kursi, mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seorang teman lewat Whatsapp. Dia penulis cerpen yang karyanya sudah dimuat di banyak media cetak nasional.

Aku: Pagi
Dia: Pagi juga. Sampai di mana novelnya?
Aku: Sampai di hatimu.
Dia: Kampret!
Aku: :) Kasi ide dong. Mentok lagi nih.
Dia: Bakar saja laptopnya. Selesai. Nggak usah jadi penulis.
Aku: Serius dong...
Dia: Serius ya.... Kalo mentok, coba baca buku-buku penulis keren. Nggak cuma baca sih, tapi juga pelajari bagaimana caranya mereka menulis kalimat per kalimat.
Aku: Oh, gitu.
Dia: Buku Mo Yan yang kemarin kupinjamkan sudah selesai kaubaca?
Aku: Belum :)
Dia: Itu dia. Kamu memang pemalas. Balikin lusa. Kalau nggak, aku yang akan bakar laptopmu.

Sialan!
Kubanting ponselku ke atas kasur. Aku kesal. Bukan kepada temanku itu, melainkan kepada diriku sendiri. Aku menyadari bahwa selama ini aku sudah jarang membaca buku. Padahal, gizi terbaik untuk menulis adalah membaca.

Aku keluar dari kamar. Menyambangi laptop. Mematikannya. Lalu menutup jendela. Matahari sudah kian meninggi dan panasnya mulai membalut permukaan kulit. Aku beranjak ke kamar kembali setelah menyambar novel Mo Yan berjudul “Di Bawah Bendera Merah” yang tergeletak di meja. Aku berharap pemenang nobel sastra tahun 2012 itu bisa mengurai sampah-sampah yang salama ini menyumbat lubang pikiranku.

Menulis itu Sulit, Kentut yang Mudah


Ya, menulis itu tidak pernah mudah. Jika sejumlah buku mengatakan sebaliknya, lewat judul yang mentereng di sampulnya, lebih sering itu hanya untuk membuat kita tertarik membelinya. Isinya sudah pasti tidak mudah, apalagi jika dipraktikkan.

Menulis membutuhkan banyak sekali persiapan. Salah satunya adalah pemahaman terhadap tema yang akan ditulis. Jika pemahaman terhadap tema minim, maka sudah pasti hasil tulisan tidak akan pernah mendalam. Seperti halnya orang mengupas jeruk. Mereka yang tidak paham tema hanya berhasil mengupas kulitnya saja, tanpa tahu rasa jeruknya.

Selain pemahaman terhadap tema, hal yang juga sangat penting dalam menulis adalah energi yang kuat. Energi di sini bukan semata-mata soal kekuatan fisik, tapi juga gairah menulis yang terus menyala-nyala. Banyak penulis pemula yang jatuh tersungkur karena tidak tahan dalam menjalani kegiatan menulis. Rasa malas menyerangnya bertubi-tubi yang membuatnya takluk. Akhirnya cita-cita menjadi penulis hanya disimpannya di dalam kepala untuk kemudian berakhir menjadi kenangan di masa tua.

Penulis yang memiliki energi kuat akan terus bertahan walaupun mereka didera banyak beban kehidupan. Justru beban tersebut akan membuatnya semakin mudah menemukan ide-ide tulisan yang lebih menarik. Mereka tidak akan takluk pada tubuh yang sedang ingin diistirahatkan. Mereka terus menulis walau tubuh dalam keadaan payah.


Baca juga: Keserhanaan itu Mahal

Ketika tubuh bisa beradaptasi dengan kegiatan menulis ini, maka orang akan mudah menuangkan gagasan dalam kondisi apa pun. Dia tidak akan memikirkan tubuhnya yang lelah. Dia tetap merasa enjoi untuk terus menuangkan gagasan.

Apakah itu sesuatu yang mudah? Tentu saja tidak. Tidak banyak orang yang mau bersusah payah bergelut dengan dunia tulis-menulis. Kebanyakan mereka berhenti dan memilih pekerjaan lain yang menghasilkan lebih banyak uang dengan sedikit keringat dan beban pikiran.

Sekali lagi, menulis bukan pekerjaan mudah. Tentu maksud saya di sini adalah tulisan yang bagus. Jika hanya menulis buruk, tentu saja mudah. Anak-anak TK sudah bisa melakukan itu. Menulis mudah bagi tulisan buruk, tapi sulit bagi tulisan bagus.

Kesederhanaan itu Mahal


Kesederhanaan itu mahal. Atau memang tak ternilai, terutama di zaman narsis ini. Orang-orang berlomba-lomba ingin diperhatikan, dipuji, dan terlihat mewah. Apa pun yang melekat pada diri mereka harus serba bernilai. Sebab, itulah yang membuat orang-orang di sekitarnya terpukau dan kadang iri.

Tidak penting benda-benda yang dimiliki bukan benar-benar miliknya. Tidak jadi soal berapa tagihan tiap bulan untuk melunasi kreditan. Atau, tidak masalah punya kendaraan bodong asal bisa bergaya ke mana-mana. Toh, orang-orang tidak akan tanya STNK dan BPKB. Mereka hanya melihat luarnya saja.

Kesederhanaan adalah soal sikap hidup. Tidak semua orang memilikinya. Hanya mereka yang benar-benar mengerti hakikat hidup yang bisa dengan santai melakoninya. Sikap itu menjadi berat karena manusia adalah makhluk sosial. Mereka butuh bergaul dengan orang lain.

Baca Juga: Sumpah-Sumpah Anti-Mainstream

Ketika berinteraksi, sikap hidup mereka kadang mengalami perubahan-perubahan. Cara pandang orang terhadap nilai-nilai sosial menjadi cair, bahkan kadang terjadi benturan-benturan. Ketika kapitalisme tertanam begitu kuat dalam kehidupan, kelas-kelas sosial terbentuk berdasarkan jumlah kapital. Orang-orang yang punya harta berlimpah akan dihormati sedemikian rupa. Dan orang-orang miskin hanya akan menjadi babu yang merunduk-runduk takzim kepada orang kaya.

Berhadapan dengan cara pandang seperti ini, kita akan sulit untuk berkomitmen menjadi orang sederhana. Keberadaan orang lain di sekitar kita yang mengamini kapitalisme menjadi batu sandungan yang bisa meruntuhkan komitmen kita. Jean Paul Sartre bilang bahwa orang lain adalah neraka. Boleh jadi ungkapan itu sesuai dengan konteks ini.

Kesederhanaan bisa lahir dari sebuah komitmen yang kuat. Kesadaran akan nilai-nilai kehidupan yang luhur membantu manusia mengendalikan nafsunya untuk menjadi serakah. Serakah terhadap harta ataupun pengakuan kelas-kelas sosial.

Ini memang butuh perjuangan. Butuh alienasi dari nilai-nilai mainstream yang dijadikan kiblat. Karena itu, berbeda menjadi penting dalam hal ini. Berbeda dari kebiasaan umum adalah kunci. Dan itu tidak mudah dilakukan.

Perempuan Penyerobot


Suatu sore di SPBU. Antrean pengguna sepeda motor mengular cukup panjang. Pompa khusus premium memang sering seperti itu di kampung kami. Jauh berbeda dengan pompa pertamax, solar, ataupun pertalite yang selalu kesepian. Premium banyak sekali penggemarnya. Di antara para penggemar itu adalah saya. Harganya yang paling murah adalah alasan utama saya memilihnya, mungkin juga bagi para penggemar yang lain. Tak jadi soal bila premium disebut sebagai bahan bakar kualitas jelek. Yang penting motor bisa jalan. Orang miskin mah simpel (yaialah, kagak punya modal).

Mengentre di pom bensin kampung kami harus sigap. Jika antrean cukup panjang, lengah sedikit bisa-bisa ada penyerobot. Bila bertemu penyerobot macam begitu rasa-rasanya ingin saya tampar pakai bakiak. Tapi, untungnya saya tidak dianugerahi perangai Abu Jahal. Jadinya cuma ngedumel dan memaki-maki dalam hati. Namanya di dalam hati, ya, tak akan ke mana-mana. Justru merusak pikiran sendiri.

Sore itu antrean relatif lancar. Saya duga semua pengantre selalu sigap, sehingga tidak ada celah bagi penyerobot. Namun, suasana itu berubah ketika ada seorang perempuan cantik tiba-tiba nyelonong di sebelah kami dan memotong antrean di bagian depan. Kampret. Dia memanfaatkan lajur khusus mobil yang kebetulan kosong. Kampretnya lagi, petugas pom malah melayaninya dengan terlebih dahulu diawali percakapan berbumbu senyam-senyum yang terlihat oleh saya sebagai ketakberdayaannya. Kau tahu, lelaki selalu takluk di hadapan perempuan cantik.

Baca Juga: Kesederhanaan itu Mahal

Saya ingin memaki-maki perempuan itu dengan bertanya di mana ia sekolah. Apakah di kandang ayam ataukah di kandang musang. Tapi, pertanyaan itu saya simpan. Dan para pengentre lain pun tidak ada yang memprotesnya. Mungkin terpesona. Padahal, saya berharap salah satu di antara mereka  ada yang menanyakan apakah ia tidak malu terhadap seragamnya. Ya, ia berseragam entah kantor apa. Saya menduga ia pegawai bank. Saya tidak bisa melihat nama perusahaanya karena bajunya dibalut jaket.

Perempuan itu pun pergi, tapi kekesalan saya tetap bertahan bahkan hingga saya menuliskannya sekarang, setelah sekitar dua tahun berlalu.

Di Sini Tidak Menjual Premium, Dik

SPBU (otosip.com)

Suatu ketika di sebuah SPBU.

"Bensin, Pak," kata saya kepada petugas yang melayani di pompa khusus pertamax.
"Kalau bensin ke sana, Dik," kata bapak berkumis itu sambil menunjuk pompa khusus premium.
"Pertamax, Pak," kata saya kemudian.
"Oh, kalau pertamax ke sini."

Lelaki itu lalu melayani dengan ramah. Sepulang dari SPBU saya tersenyum dalam hati dan baru tahu kalau di sini tidak menjual premium, yang ada hanyalah bensin, pertamax, pertalite, dan solar.