Penyair Kampung Kami

Penyair Kampung Kami

Sore itu kami datang ke sebuah rumah di batas kampung dengan sebundel puisi di tangan masing-masing. Kami baru saja dari rental print dengan perasaan bangga, kami punya karya dan kami adalah penyair.

Orang yang kami tuju sedang menyedot rokok lintingan di teras rumahnya. Asapnya yang pekat merimbuni kumis dan jenggotnya yang tebal. Di kampung kami, dia dikenal sebagai penyair hebat, meskipun tak ada karyanya yang pernah dimuat media. "Apakah karya seseorang harus dimuat media dulu baru bisa disebut penyair? Tolol". Itu pertanyaan yang sekaligus semburan si penyair kampung kami kepadaku suatu ketika, saat kami mengobrol di sore yang lain.

Penyair kampung kami ini sudah berumur 50-an tahun. Ia menjomblo dan merasa itu adalah bagian dari sebuah puisi. "Aku mencintai seorang perempuan dan ia kini sudah bersuami. Aku ingin menjalani hidup ini dengan tetap menyimpan cinta kepadanya, meskipun ia tak bersamaku. Kupikir itu adalah puisi terbaik yang harus kusimpan baik-baik," katanya suatu ketika. Mendengarnya aku tahu bahwa ia ternyata orang yang melodramatis, jauh dari kesan saat ia menghakimi puisi-puisi kami.

Sore itu kami dipersilahkan duduk. Ia masuk ke dalam rumahnya sebentar, lalu keluar dengan membawa segelas kopi berukuran besar.

"Joinan saja. Penyair tak boleh egois," katanya, mengisyaratkan kami untuk minum kopi dalam satu gelas.

"Banyak sekali puisimu," kata si penyair kampung kami kepada teman saya yang menyodorkan sebundel puisi.

"Iya, Bang. Sedang banyak inspirasi. Hehe."

Temanku itu memang sedang kasmaran. Wajar jika ia bisa menimbun banyak puisi dalam waktu singkat. Itu kelaziman yang tak bisa ditolak bangsa manusia.

Penyair kampung kami membuka-buka bundelan kertas itu, membacanya sekilas-sekilas seperti orang dinas memeriksa proposal, lalu menatap ke arahku.

"Punya kau mana?"

"Ini, Bang." Kusodorkan karyaku dengan perasaan harap-harap cemas, sebuah kondisi yang terus berulang saat kuserahkan karyaku kepada lelaki itu.

Beberapa saat setelah membaca karyaku, penyair kampung kami menatap tajam ke arah kami berdua. Temanku tampak takzim, seperti ajudan bupati yang baru saja mendapat rapor merah.

"Kalian ini bukan menulis, tapi berak." Itu ucapan singkat yang memorak-porandakan pendirian kami. Aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan oleh seorang sastrawan terkenal kepada fans-nya yang calon penulis, tapi aku lupa namanya.

Kami pulang dengan gerundelan masing-masing. Temanku tampak seperti patah hati, tapi ia mencoba tegar.
Meskipun selalu dibantai habis, kami tetap merasa perlu datang lagi kepada penyair kampung kami. Di sore beberapa hari berikutnya, temanku mengajak kembali untuk berkunjung kepadanya.

"Aku ingin menyerahkan ini," katanya sambil tersenyum.

Ia memperlihatkan lima puisinya yang terbit di sebuah koran. Kurasa ia datang bukan dengan niat mengoreksikan karyanya, melainkan ingin mempecundangi penyair kampung kami. Ia ingin katakan bahwa ungkapan-ungkapan sarkastisnya selama ini salah besar.

Saat sampai di rumah si penyair, temanku menyerahkan lembaran koran tersebut. Lelaki itu membacanya dengan tekun, lalu manggut-manggut. Bola mata temanku berbinar bahagia menyaksikan gerakan kepala itu. Ia pasti merasa si penyair menyukainya. Si penyair tetap membaca sebelum akhirnya berkata, "Kau itu tetap berak. Bedanya, kalau kemarin kau cuma berak di hadapanku, kini kau berak di hadapan banyak orang."

Sejak saat itu kami putuskan untuk tidak menjadi penyair. Aku memilih menjadi kuli bangunan dan temanku memilih mengangon kambing.

Asal Mula Rahmatullah

Asal Mula Rahmatullah



Konon Rahmatullah itu terbuat dari telur cecak. 

Suatu sore yang gerimis, Raja Xajiskac Hakejalsjh dari kerajaan Dksiba yang memerintah pada 2018362 Sebelum Masehi, memanggil para pelayannya.

"Siapa di antara kalian yang bisa membuatkanku roti paling enak dari bahan-bahan yang tidak pernah dibuat sebelumnya?"

Kepala para pelayan tetap tertunduk, tanda tak mampu dan tak paham keinginan sang raja. Namun, tiba-tiba ada satu pelayan yang memecah keheningan.

"Kami tidak paham maksud Tuan," katanya.

"Tidak perlu ditafsiri yang aneh-aneh, Gajsyhakgsej. Aku hanya ingin mencicipi roti yang tidak biasa. Aku bosan dengan roti-roti yang ada. Aku ingin di antara kalian ada yang membuatkannya untukku," kata sang raja kepada pelayan itu.

"Kalau begitu, biar masing-masing kami membuatkannya untuk raja. Nanti Raja tinggal memilih mana yang paling disukai."

"Baiklah, kalau begitu."

Para pelayan mulai mencari ide untuk roti yang aneh itu. Betapa sulitnya. Bahan-bahannya juga sulit didapat karena nyaris semua bahan roti sudah pernah dibuat. Sebagian pelayan sampai harus bertapa di selangkangan kuda. Sebagian yang lain di loteng kamar mandi.

Akhirnya, tibalah waktu untuk menyuguhkan roti itu kepada raja. Para pelayan datang dengan nampan berisi roti khas masing-masing. Raja mulai mencicipi satu per satu roti itu.

Di antara sekian roti yang dijejer di atas meja panjang, roti buatan Kajrlshbajsmah lah satu-satunya yang membuat raja tertarik. Roti itu berbentuk gundukan kecil mirip celatong sapi. Di ujungnya yang lancip, terdapat telur cecak berumur 3 hari. Bahan utama roti tersebut adalah serbuk pohon bambu.

Saat mencicipi roti tersebut raja langsung jatuh hati. Ia segera memakannya dengan lahap. Matanya mengerjap-ngerjap keenakan.

Namun, saat mengunyah telur cecak mentah tersebut, mulut raja terasa ada yang aneh. Ada benda yang bergerak-gerak. Gerakan itu makin lama makin kuat. Akhirnya raja pun memuntahkannya.

Raja kaget. Para pelayan pun kaget. Benda itu menggeliat-geliat di tanah. Makin lama makin mengembang dan semakin mirip manusia. Seisi istana gempar menyaksikan bayi mungil itu tampak jelas dan nyata.

Genap 450 tahun, bayi itu lalu diberi nama Rahmatullah.

Sebuah Pagi yang Kampret

Sebuah Pagi yang Kampret

Aku tidak suka kopi. Aku menyukai kerupuk. Apa boleh buat. Selera orang tidak harus sama, bukan? Sebagian di antara kalian mungkin ada yang menyukai kucing dan sebagian yang lain malah sebaliknya. Benci sebenci-bencinya. Begitulah. Dunia ini dipenuhi perbedaan-perbedaan. Sebab, kalau seragam itu namanya paskibra.

Tiap pagi, sebelum membuka laptop, teman terbaikku adalah kerupuk. Pagi itu pun demikian. Kerupuk tersebut sisa kemarin yang belum habis termakan oleh anak. Aku dan istri biasa menyisakannya untuk anak kami yang ajaibnya mewarisi tabiatku sebagai pemangsa kerupuk. Keluarga kami memang menyukai kerupuk. Aku berharap bisa mewariskannya hingga tujuh turunan.

Pagi itu, sambil mengunyah kerupuk kubuka jendela dengan perasaan malas. Aku berharap percik sinar matahari yang menelusup lewat celah-celah jendela mampu menghangatkan kepalaku, sehingga memantik ide-ide untuk menulis. Hari ini adalah hari ke-27 aku mencari gagasan untuk membuat sebuah novel.

Baca Juga: Menulis itu Sulit, Kentut yang Mudah

Sebenarnya, itu sudah menjadi rutinitasku tiap pagi. Membuka jendela, memanaskan kepala, dan mematung di depan laptop. Hingga kerupuk habis dan pagi hilang percuma, kepalaku tetap buntu. Tak ada ide yang bisa kutuliskan.

Pernah seorang teman menyarankan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum membuka laptop. Kuikuti sarannya. Tapi kegiatan itu malah membuatku keenakan jalan-jalan. Tambah lagi banyak orang jualan gorengan sepanjang jalan. Nurani saya tak tahan godaan. Habis sudah sisa waktu hanya untuk melumat tahu isi dan bulud yang hangat dan menghanyutkan.

Menulis novel adalah cita-citaku yang belum kesampaian. Sudah bertahun-tahun keinginan itu kusimpan dalam kepala. Entah ia akan bertahan sampai kapan. Aku akan terus mengikuti ritmenya, mungkin sampai aku tua nanti. Mudah-mudahan tak sebatas keinginan belaka.

Laptop di depanku tetap dengan tiga kalimat. Seperti menjadi kebiasaan, aku kesulitan mencari kata yang pas sebagai penyambungnya. Kepalaku tetap beku. Aku berdiri dari kursi, mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seorang teman lewat Whatsapp. Dia penulis cerpen yang karyanya sudah dimuat di banyak media cetak nasional.

Aku: Pagi
Dia: Pagi juga. Sampai di mana novelnya?
Aku: Sampai di hatimu.
Dia: Kampret!
Aku: :) Kasi ide dong. Mentok lagi nih.
Dia: Bakar saja laptopnya. Selesai. Nggak usah jadi penulis.
Aku: Serius dong...
Dia: Serius ya.... Kalo mentok, coba baca buku-buku penulis keren. Nggak cuma baca sih, tapi juga pelajari bagaimana caranya mereka menulis kalimat per kalimat.
Aku: Oh, gitu.
Dia: Buku Mo Yan yang kemarin kupinjamkan sudah selesai kaubaca?
Aku: Belum :)
Dia: Itu dia. Kamu memang pemalas. Balikin lusa. Kalau nggak, aku yang akan bakar laptopmu.

Sialan!
Kubanting ponselku ke atas kasur. Aku kesal. Bukan kepada temanku itu, melainkan kepada diriku sendiri. Aku menyadari bahwa selama ini aku sudah jarang membaca buku. Padahal, gizi terbaik untuk menulis adalah membaca.

Aku keluar dari kamar. Menyambangi laptop. Mematikannya. Lalu menutup jendela. Matahari sudah kian meninggi dan panasnya mulai membalut permukaan kulit. Aku beranjak ke kamar kembali setelah menyambar novel Mo Yan berjudul “Di Bawah Bendera Merah” yang tergeletak di meja. Aku berharap pemenang nobel sastra tahun 2012 itu bisa mengurai sampah-sampah yang salama ini menyumbat lubang pikiranku.

Menulis itu Sulit, Kentut yang Mudah

Menulis itu Sulit, Kentut yang Mudah


Ya, menulis itu tidak pernah mudah. Jika sejumlah buku mengatakan sebaliknya, lewat judul yang mentereng di sampulnya, lebih sering itu hanya untuk membuat kita tertarik membelinya. Isinya sudah pasti tidak mudah, apalagi jika dipraktikkan.

Menulis membutuhkan banyak sekali persiapan. Salah satunya adalah pemahaman terhadap tema yang akan ditulis. Jika pemahaman terhadap tema minim, maka sudah pasti hasil tulisan tidak akan pernah mendalam. Seperti halnya orang mengupas jeruk. Mereka yang tidak paham tema hanya berhasil mengupas kulitnya saja, tanpa tahu rasa jeruknya.

Selain pemahaman terhadap tema, hal yang juga sangat penting dalam menulis adalah energi yang kuat. Energi di sini bukan semata-mata soal kekuatan fisik, tapi juga gairah menulis yang terus menyala-nyala. Banyak penulis pemula yang jatuh tersungkur karena tidak tahan dalam menjalani kegiatan menulis. Rasa malas menyerangnya bertubi-tubi yang membuatnya takluk. Akhirnya cita-cita menjadi penulis hanya disimpannya di dalam kepala untuk kemudian berakhir menjadi kenangan di masa tua.

Penulis yang memiliki energi kuat akan terus bertahan walaupun mereka didera banyak beban kehidupan. Justru beban tersebut akan membuatnya semakin mudah menemukan ide-ide tulisan yang lebih menarik. Mereka tidak akan takluk pada tubuh yang sedang ingin diistirahatkan. Mereka terus menulis walau tubuh dalam keadaan payah.


Baca juga: Keserhanaan itu Mahal

Ketika tubuh bisa beradaptasi dengan kegiatan menulis ini, maka orang akan mudah menuangkan gagasan dalam kondisi apa pun. Dia tidak akan memikirkan tubuhnya yang lelah. Dia tetap merasa enjoi untuk terus menuangkan gagasan.

Apakah itu sesuatu yang mudah? Tentu saja tidak. Tidak banyak orang yang mau bersusah payah bergelut dengan dunia tulis-menulis. Kebanyakan mereka berhenti dan memilih pekerjaan lain yang menghasilkan lebih banyak uang dengan sedikit keringat dan beban pikiran.

Sekali lagi, menulis bukan pekerjaan mudah. Tentu maksud saya di sini adalah tulisan yang bagus. Jika hanya menulis buruk, tentu saja mudah. Anak-anak TK sudah bisa melakukan itu. Menulis mudah bagi tulisan buruk, tapi sulit bagi tulisan bagus.

Kesederhanaan itu Mahal

Kesederhanaan itu Mahal


Kesederhanaan itu mahal. Atau memang tak ternilai, terutama di zaman narsis ini. Orang-orang berlomba-lomba ingin diperhatikan, dipuji, dan terlihat mewah. Apa pun yang melekat pada diri mereka harus serba bernilai. Sebab, itulah yang membuat orang-orang di sekitarnya terpukau dan kadang iri.

Tidak penting benda-benda yang dimiliki bukan benar-benar miliknya. Tidak jadi soal berapa tagihan tiap bulan untuk melunasi kreditan. Atau, tidak masalah punya kendaraan bodong asal bisa bergaya ke mana-mana. Toh, orang-orang tidak akan tanya STNK dan BPKB. Mereka hanya melihat luarnya saja.

Kesederhanaan adalah soal sikap hidup. Tidak semua orang memilikinya. Hanya mereka yang benar-benar mengerti hakikat hidup yang bisa dengan santai melakoninya. Sikap itu menjadi berat karena manusia adalah makhluk sosial. Mereka butuh bergaul dengan orang lain.

Baca Juga: Sumpah-Sumpah Anti-Mainstream

Ketika berinteraksi, sikap hidup mereka kadang mengalami perubahan-perubahan. Cara pandang orang terhadap nilai-nilai sosial menjadi cair, bahkan kadang terjadi benturan-benturan. Ketika kapitalisme tertanam begitu kuat dalam kehidupan, kelas-kelas sosial terbentuk berdasarkan jumlah kapital. Orang-orang yang punya harta berlimpah akan dihormati sedemikian rupa. Dan orang-orang miskin hanya akan menjadi babu yang merunduk-runduk takzim kepada orang kaya.

Berhadapan dengan cara pandang seperti ini, kita akan sulit untuk berkomitmen menjadi orang sederhana. Keberadaan orang lain di sekitar kita yang mengamini kapitalisme menjadi batu sandungan yang bisa meruntuhkan komitmen kita. Jean Paul Sartre bilang bahwa orang lain adalah neraka. Boleh jadi ungkapan itu sesuai dengan konteks ini.

Kesederhanaan bisa lahir dari sebuah komitmen yang kuat. Kesadaran akan nilai-nilai kehidupan yang luhur membantu manusia mengendalikan nafsunya untuk menjadi serakah. Serakah terhadap harta ataupun pengakuan kelas-kelas sosial.

Ini memang butuh perjuangan. Butuh alienasi dari nilai-nilai mainstream yang dijadikan kiblat. Karena itu, berbeda menjadi penting dalam hal ini. Berbeda dari kebiasaan umum adalah kunci. Dan itu tidak mudah dilakukan.

Perempuan Penyerobot

Perempuan Penyerobot


Suatu sore di SPBU. Antrean pengguna sepeda motor mengular cukup panjang. Pompa khusus premium memang sering seperti itu di kampung kami. Jauh berbeda dengan pompa pertamax, solar, ataupun pertalite yang selalu kesepian. Premium banyak sekali penggemarnya. Di antara para penggemar itu adalah saya. Harganya yang paling murah adalah alasan utama saya memilihnya, mungkin juga bagi para penggemar yang lain. Tak jadi soal bila premium disebut sebagai bahan bakar kualitas jelek. Yang penting motor bisa jalan. Orang miskin mah simpel (yaialah, kagak punya modal).

Mengentre di pom bensin kampung kami harus sigap. Jika antrean cukup panjang, lengah sedikit bisa-bisa ada penyerobot. Bila bertemu penyerobot macam begitu rasa-rasanya ingin saya tampar pakai bakiak. Tapi, untungnya saya tidak dianugerahi perangai Abu Jahal. Jadinya cuma ngedumel dan memaki-maki dalam hati. Namanya di dalam hati, ya, tak akan ke mana-mana. Justru merusak pikiran sendiri.

Sore itu antrean relatif lancar. Saya duga semua pengantre selalu sigap, sehingga tidak ada celah bagi penyerobot. Namun, suasana itu berubah ketika ada seorang perempuan cantik tiba-tiba nyelonong di sebelah kami dan memotong antrean di bagian depan. Kampret. Dia memanfaatkan lajur khusus mobil yang kebetulan kosong. Kampretnya lagi, petugas pom malah melayaninya dengan terlebih dahulu diawali percakapan berbumbu senyam-senyum yang terlihat oleh saya sebagai ketakberdayaannya. Kau tahu, lelaki selalu takluk di hadapan perempuan cantik.

Baca Juga: Kesederhanaan itu Mahal

Saya ingin memaki-maki perempuan itu dengan bertanya di mana ia sekolah. Apakah di kandang ayam ataukah di kandang musang. Tapi, pertanyaan itu saya simpan. Dan para pengentre lain pun tidak ada yang memprotesnya. Mungkin terpesona. Padahal, saya berharap salah satu di antara mereka  ada yang menanyakan apakah ia tidak malu terhadap seragamnya. Ya, ia berseragam entah kantor apa. Saya menduga ia pegawai bank. Saya tidak bisa melihat nama perusahaanya karena bajunya dibalut jaket.

Perempuan itu pun pergi, tapi kekesalan saya tetap bertahan bahkan hingga saya menuliskannya sekarang, setelah sekitar dua tahun berlalu.

Di Sini Tidak Menjual Premium, Dik

Di Sini Tidak Menjual Premium, Dik

SPBU (otosip.com)

Suatu ketika di sebuah SPBU.

"Bensin, Pak," kata saya kepada petugas yang melayani di pompa khusus pertamax.
"Kalau bensin ke sana, Dik," kata bapak berkumis itu sambil menunjuk pompa khusus premium.
"Pertamax, Pak," kata saya kemudian.
"Oh, kalau pertamax ke sini."

Lelaki itu lalu melayani dengan ramah. Sepulang dari SPBU saya tersenyum dalam hati dan baru tahu kalau di sini tidak menjual premium, yang ada hanyalah bensin, pertamax, pertalite, dan solar.

Mengikis Stereotip Lewat Internet

Mengikis Stereotip Lewat Internet

Suku Madura (lontarmadura.blogspot.com)

Agustus 1990, saya diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Ilmu Sosiatri Fisipol UGM. Sebagaimana biasanya mahasiswa baru, masa-masa awal kuliah sangat memungkinkan untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Teman-teman saya yang rata-rata perempuan, kerap mengernyitkan dahi atau memelototkan mata ketika saya memperkenalkan diri sebagai orang Madura. Dalam perkenalan lebih lanjut, mereka heran ketika mengetahui bahwa saya bukan berasal dari keluarga tukang sate, tukang soto dan tukang cukur. Hal serupa dialami adik saya. Ketika KKN, teman-teman KKN-nya menjulukinya orang Jawa karena ia tidak pernah marah.
 

 ...

Cerita lain berasal dari seorang teman (bukan orang Madura) yang sedang menempuh pendidikan Magister dan kebetulan menulis tesis tentang Madura. Penyusunan tesis tersebut mengharuskannya melakukan penelitian di Madura. Ketika rekan-rekannya mengetahui tentang hal ini, mereka heran dan menyebut teman saya itu sebagai “sangat berani”. Rupanya, masuk ke Madura sama dengan masuk ke kandang macan atau setidaknya harus siap berhadapan dengan laki-laki Madura yang dikenal suka melakukan carok.


Kutipan di atas saya ambil dari buku Jembatan Suramadu: Respon Ulama terhadap Industrialisasi (LKPSM, 1998). Muthmainnah, si penulis buku, menceritakan sebagian pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang luar Madura saat ia kuliah di Jogjakarta. Dari fakta-fakta yang ia urai, tampak sekali bahwa pandangan negatif terhadap orang Madura sudah mengakar begitu kuat.

Pengalaman serupa pernah saya alami sendiri beberapa tahun lalu. Dalam sebuah acara di Malang, teman sekamar saya yang kebetulan orang Jawa bertanya, “Madura itu katanya panas, ya, Mas? Orang-orangnya  katanya suka carok. Senggol dikit, carok.” Saya jawab saja sambil senyum-senyum bahwa tidak semua orang di Madura itu suka carok. Bahkan yang tidak suka lebih banyak dari yang suka.

Orang Madura memang seringkali digambarkan sebagai suku yang temperamen dan barbar. Jika menyebut Madura, hal pertama yang tergambar dalam benak banyak orang adalah kemudahannya melepaskan nyawa dari batang tubuh seseorang. Alasan untuk itu pun bisa cukup sepele, misalnya karena kena senggol saat berjalan. Karenanya, orang Madura juga sering bersinonim dengan senjata. Bahkan ada olok-olok, jika semua senjata orang Madura dibuang ke selat Madura, selat tersebut tak akan bisa dilintasi. Saking banyaknya.

Stereotip terhadap orang Madura sebetulnya punya akar sejarah yang cukup jauh, yaitu sejak masa kolonial. Dalam buku Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Madura dan Kebudayaan Madura (LKiS, 2012), Huub de Jonge mengurai sejumlah data tertulis tentang kesan negatif orang-orang Belanda terhadap orang Madura yang termuat dalam beberapa terbitan; majalah, koran, dan jurnal. Mereka menggambarkan orang Madura sangat kasar, kurang ajar, terbuka, blak-blakan, tidak tahu tatakrama dan tak punya sopan santun. Benar-benar berbeda dari karakter orang Jawa ataupun Sunda yang lebih lembut dan sopan.

Orang Madura juga digambarkan memiliki struktur tubuh yang cukup jelek. Lebih jelasnya, saya tuliskan pernyataan Van Gennep yang dikutip de Jonge:

“Dengan mudah dibedakan dari orang Jawa. Perawakan mereka lebih kekar dan berotot, tapi tidak lebih besar, muka lebih lebar dan tidak halus, tulang pipi sangat menonjol, dan tampang lebih galak dan sering kasar.” (1921:184)

Perempuan Madura pun tak luput dari stereotip. Brandt Buys menggambarkannya sebagai sosok yang tidak terlalu anggun dan berwibawa. Struktur tulangnya kelewat kasar dan mukanya terlalu bebal. Gadis-gadis ciliknya memang halus, tapi segera menjadi kasar setelah menginjak masa dewasa.

Stereotip itu terus berkembang hingga zaman setelah kemerdekaan. Pada tahun 1985, muncul sebuah film berjudul “Carok”, disutradarai oleh Imam Tantowi dan dibintangi oleh Berry Prima dan Yenny Farida. Film ini memenangi Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1985 untuk kategori pemeran pendukung pria terbaik.

Film “Carok” mungkin hadir bukan untuk menanamkan stereotip terhadap orang Madura ke dalam benak penonton. Namun, secara tidak langsung, ia kian mengukuhkan anggapan orang luar bahwa Madura itu memang identik dengan carok. Adegan-adegan yang ada dalam film tersebut kian menguatkan asumsi mereka yang sudah tertanam selama ini.

Stereotip itu terus berkembang juga karena belum banyak buku ataupun terbitan-terbitan yang bisa mengenalkan Madura lebih detail. Sedikit sekali yang mau menuliskan kearifan-kearifan lokal yang sebetulnya banyak dimiliki Madura. Umumnya peneliti beranggapan bahwa kebudayaan Madura merupakan turunan dari Jawa, sehingga mereka tidak merasa perlu datang ke Madura jika sebelumnya sudah pernah meneliti Jawa.

Selain itu, dari pihak orang Madura juga tidak banyak yang berusaha mengikis stereotip atas diri mereka. Mungkin karena tidak banyak orang yang bisa menulis saat itu atau karena terbatasnya dana penerbitan. Yang jelas, buku ataupun terbitan tentang kearifan-kearifan lokal Madura tidak banyak beredar.

Zaman Internet, Kesempatan Emas bagi Orang Madura

Internet kini sudah merasuk jauh ke dalam nadi kehidupan manusia. Tak hanya di kota, masyarakat desa pun juga bisa menikmatinya. Seperti saya yang mengelola blog ini. Saya orang desa yang jauh dari keramaian.
Internet mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Saat ini, banyak aktivitas yang bisa dilakukan lewat internet; tukar-menukar pendapat, membeli atau menjual barang, konsultasi kesehatan, memesan tempat menginap, memesan makanan, memesan ojek, dan sebagainya. Intinya, aktivitas kehidupan ini sebagian besar sudah ditarik ke dalam dunia digital.

Baca Juga: Orang Madura itu Ramah-Ramah, Mas

Tersebarnya internet ini menjadi angin segar bagi sejumlah kalangan di Madura yang menyadari adanya peluang besar untuk mengikis kesan negatif terhadap diri mereka. Lewat blog-blog yang dikelola komunitas ataupun pribadi, mereka mencoba mengenalkan sisi positif yang ada di Madura. Mereka berharap dengan adanya berita-berita positif tersebut, orang-orang luar bisa mendapatkan informasi yang lebih berimbang, bahwa di Madura tidak hanya ada carok belaka.

Salah satu orang yang getol menulis kearifan lokal Madura adalah K. Dardiri Zubairi. Lewat akunnya di Kompasiana dan blog Rampak Naong, beliau banyak mengangkat sisi positif Madura. Sisi positif itu bisa menyangkut falsafah hidup ataupun adat dan tradisi Madura.

Banyak hal mengemuka dari apa yang beliau tulis. Misalnya tentang sikap teguh dan pantang menyerah, kesederhanaan hidup, penghormatan kepada tamu, dan sebaginya, yang ada dalam kehidupan masyarakat Madura. Semua itu berasal dari pengalaman beliau membaca keseharian masyarakat Madura.

Dalam sebuah kesempatan, K. Dardiri pernah menyampaikan bahwa harus lebih banyak lagi orang Madura yang menulis tentang Madura. Karena, menurut beliau, yang lebih banyak tahu tentang seluk-beluk Madura adalah orang Madura sendiri. Jangan diserahkan kepada orang luar yang tidak bersentuhan langsung dengan denyut nadi kebudayaan Madura.

Selain K. Dardiri, ada juga sastrawan Syaf Anton WR. Dia mengelola blog Lontar Madura. Dalam blognya, dia mempublikasikan tentang tradisi dan kebudayaan Madura. Perhatiannya terhadap sastra Madura juga cukup besar. Kajian-kajian kesusastraan Madura bisa juga dijumpai dalam blog tersebut.

Ada juga komunitas blogger Madura, yaitu Plat-M, yang juga memiliki minat besar terhadap publikasi kearifan lokal Madura. Komunitas ini berdiri pada tahun 2009 dengan tagline “Menduniakan Madura”. Saat ini anggotanya sudah tersebar di empat kabupaten yang ada di Madura. Ada juga beberapa anggota lain dari luar Madura.

Lewat blog komunitas maupun blog pribadi, para anggota menulis tradisi-tradisi unik yang ada di Madura. Mereka juga mempopulerkan sejumlah destinasi wisata yang belum banyak dikenal orang. Kepopuleran Gili Labak, salah satunya, juga berkat publikasi yang dilakukan oleh blogger Plat-M.

Selain mempopulerkan Madura, Plat-M juga mendorong tumbuhnya narablog-narablog baru yang kelak akan kian memperluas penyebaran local wisdom Madura. Mereka dilatih untuk bisa menulis dan mengelola blog.

Penutup

Masih banyak narablog-narablog lain yang belum sempat dicatat di sini karena keterbatasan wakyu yang saya miliki. Mereka juga berusaha berbagi kepada orang luar terkait kehidupan masyarakat Madura lewat konten-konten di blog ataupun video di youtube.

Para narablog Madura sebenarnya tidak membantah adanya carok di Madura. Namun, mereka tidak mau orang menggeneralisir bahwa semua orang Madura suka carok. Itu adalah kesimpulan yang sangat tergesa-gesa.

Selain itu, Madura juga memiliki banyak sekali falsafah kehidupan yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Publikasi teladan-teladan tersebut akan menjadi informasi berimbang terhadap stigma yang sudah kadung jauh mengakar dalam alam bawah sadar orang luar Madura.