Jika Rambut Anda Kusut, Lumurilah dengan Minyak Goreng

sumber gambar: modelrambuts.blogspot.com
Itu resep bagus yang entah diciptakan oleh siapa. Mungkin sudah ada sejak zaman prasejarah, sehingga pencetusnya sulit dikenali.

Bagi kami waktu itu, soal siapa yang menemukan resep minyak goreng ini bukan urusan besar. Aspek manfaatnyalah yang kami kedepankan. Tapi, tentu kami akan sangat girang jika diketahui siapa penemunya karena kami bisa membanggakan orang tersebut sekaligus bisa belajar kepadanya bagaimana cara menciptakan penemuan-penemuan besar semacam itu.

Tapi, apa boleh buat, ia memang tak jelas sejarahnya. Tahu-tahu kami sudah memakainya.

Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, ibu saya mempersiapkan baju putih dan celana dongker. Ia juga memasangkannya ke tubuh saya dengan sangat hati-hati dan teliti. Ibu memastikan bahwa tak ada yang janggal dengan caranya menarik resleting. Insiden yang sering dialami oleh anak-anak seusia saya waktu itu adalah barang berharganya memar gara-gara terjepit resleting. Terkadang sedikit berdarah. Soal bagaimana rasanya tak perlu ditanya. Itu peristiwa yang seharusnya membuat para ibu hati-hati agar anaknya merasa tak dianiaya.

Saya sudah berpakaian rapi dan ibu segera mempersiapkan sarapan pagi. Piring berisi nasi singkong dan cobek berisi campuran garam dan minyak goreng terhidang di depan saya. Saya memakan nasi tersebut sesuap demi sesuap setelah sebelumnya mencolekkannya ke campuran garam dan minyak sebagai penyedap. Saya baru berhenti setelah perut terasa penuh dan yakin bahwa ia akan mampu mencukupi kebutuhan energi hingga jam pelajaran berakhir.

Setelah sarapan, saya pamit berangkat sekolah, tapi Ibu tiba-tiba mencegah. “Sebentar, rambutmu kusut sekali,” katanya. Lalu ia mengambil minyak goreng yang tadi digunakannya untuk melengkapi menu sarapan saya. Ia menuang sedikit ke tangannya, lalu mengolesi ke rambut saya. Aroma sedikit apek perlahan tercium dari kepala saya.

Tangan Ibu mengusap-usap rambut saya untuk memastikannya tak ada bagian-bagian yang menjulang. Jika masih ada yang bandel, Ibu akan menuangkan minyak kembali, sehingga membuat kepala saya lepek dan mirip ikan teri siap digoreng.

“Kalau begini tampak lebih rapi,” kata Ibu mengkahiri riasannya di kepalaku. Saat saya pamit berangkat, ia berpesan dengan kalimat-kalimat yang nyaris sama setiap harinya, “Jangan selalu bergurau kalau sekolah. Nanti nilaimu jelek. Ibu tak akan memberimu uang jajan kalau nilaimu jelek.” Tetapi ibu tetap memberi saya uang jajan meski nilai rapot saya selalu merah.

Di sekolah, saat pagi hari, rambut kami rapi dan mengkilap saat diterpa sinar matahari. Namun, jika siang menjelang, aromanya berubah. Bermain kejar-kejaran saat jam istirahat membuat keringat kami berleleran. Ia merusak aroma minyak goreng di kepala kami. Saat pulang sekolah bau kepala kami sudah seperti bangkai beruk.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...