KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Pakona Bhumi

sumber gambar: cacatanagilazizi.wordpress.com

Menurut Al-Qur’an surat An-Naba’ (6-7), pasak (paku) bumi adalah gunung, sementara menurut orang Madura adalah para kiai (ulama). Keduanya tentu tak bertentangan karena domainnya berbeda. Yang pertama berhubungan dengan geologi, sementara yang kedua merupakan ungkapan metaforis tentang kehidupan sosial keagamaan masyarakat Madura.
Paku adalah benda bulat panjang dari logam besi yang berkepala dan berujung runcing (untuk melekatkan satu tiang dengan tiang lain). Itu pengertian yang disodorkan KBBI. Dari pengertian tersebut, ada satu kata kunci penting, yaitu “melekatkan”.

Kiai menempati ruang penting dalam kehidupan masyarakat Madura. Dalam konsep hierarki kepatuhan, mereka masuk di urutan ketiga setelah bapak dan ibu. Bhuppa’ bhabu’ ghuru rato (bapak, ibu, guru, raja), begitu orang Madura mengistilahkannya. Jadi, dalam hierarki ini yang harus dihormati dan diikuti perintahnya adalah bapak, ibu, guru, dan raja (pemerintah). Guru atau kiai menempati posisi sebelum pemimpin birokrasi. Ini menandai bahwa derajat bupati berada di bawah kiai.

Kehidupan sehari-hari para kiai, terutama kiai kampung (keajih), selalu dekat dengan masyarakatnya. Mereka yang mula-mula mengenalkan anak-anak kecil mengeja ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Mereka pula yang meletakkan dasar-dasar pengetahuan agama kepada anak-anak tersebut.

Tak hanya itu, kiai juga menjadi tempat bertanya masyarakat. Bila ada suatu masalah dalam keluarga, misalnya, mereka datang kepada kiai untuk meminta saran dan doa berkah. Masalah yang diajukan pun tak melulu soal agama. Ekonomi, primbon, bahkan urusan politik juga banyak ditanyakan kepada para kiai.

Sebegitu dekatnya kiai dengan kehidupan masyarakat Madura melahirkan sebuah relasi yang unik, yang tak dimiliki oleh para pemimpin birokrasi. Relasi ini kemudian mendorong aktor-aktor politik untuk mendekat ke kiai agar dukungan untuknya dari basis kiai tersebut bisa lebih besar. Restu dari kiai adalah obat mujarab bagi kegilaan politisi atas sebuah kekuasaan.

Peran besar kiai dalam kehidupan masyarakat Madura melahirkan istilah pakona bhumi (pakunya bumi). Istilah ini memiliki makna yang dalam, bahwa kiai menjadi penyatu elemen-elemen dalam kehidupan masyarakat Madura. Kiai juga menjadi perekat antara masyarakat dengan tradisi keislaman.

Semua itu dilakukan kiai dengan tanpa pamrih. Bila berpamrih, mungkin cerita akan punya alur yang berbeda. Boleh jadi mereka akan sama dengan para politisi yang memanfaatkan suara masyarakat hanya untuk keuntungan diri dan kelompoknya. Untungnya kiai tidak seperti itu. Yang mereka harapkan adalah pengabdian yang tulus untuk agama Allah.

Tetapi, perkembangan zaman menciptakan pula perubahan-perubahan dalam relasi kiai dengan masyarakat Madura. Seruan-seruan kiai dalam beberapa hal tidak mereka ikuti, terutama dalam masalah politik. Apakah ini sebentuk pengabaian terhadap petunjuk kiai ataukah mencerminkan cara berpikir orang Madura yang mulai cerdas? Wallahu a’lam. Yang jelas kiai tidak mungkin serampangan menentukan pilihan. Mereka selalu beristikharah untuk memilih pemimpin. Sementara di sisi lain masyarakat sudah bosan disuguhi janji-janji kampanye para petualang kekuasaan.

Lenteng, 26 September 2015

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar