Bertemu Kembali dengan Si Belangkin


235 tahun sebelum alat catut diciptakan, kami bertemu tanpa sengaja di warung kopi pojok pasar Sattowan. Ia seorang diri dan aku bersama seorang teman. Ia datang saat kami sedang terlibat perdebatan kecil tentang mengapa orang perlu ribut bertanya lebih dulu telur atau ayam. Ia meminta duduk bersama kami, lalu memesan segelas kopi.

Temanku berbisik saat lelaki itu mengambil kopi, "Mungkin ia kebanyakan minum kopi. Kulitnya seperti kopi habis disangrai."

"Jangan tertipu, bisa jadi ia sedang melumuri kulitnya dengan belangkin untuk sebuah penyamaran," kataku. Si teman tersenyum dan Si Belangkin tampaknya mendengar bisikan kami. Tapi ia kuyakin dilahirkan sebagai makhluk yang wajahnya hanya menyimpan satu ekspresi saja: senyuman.

Selesai memesan kopi, ia duduk di hadapan kami, lalu berkisah tentang ilmu nujum dan klenik. O, iya. Si Belangkin mengaku berasal dari ujung timur pulau Nong Bhungkar, sebuah tempat yang kami berdua belum pernah menjumpainya dalam pelajaran geografi.

Setelah pertemuan di warung kopi itu, kami lalu saling melupakan. Ia pergi entah kemana dan aku dan temanku tak berminat untuk menghubunginya. Kami sama-sama tak tertarik ilmu nujum.

235 tahun setelah alat catut ditemukan, Tuhan mempertemukan kami kembali di sebuah kantor pemerintahan. Melihatnya hari ini, panggilan Si Belangkin tampaknya tak pas lagi. Kulitnya sudah putih bersinar. Wajahnya bersih dan giginya dipagari kawat. Di dadanya tersemat pin gambar Garuda. Seseorang dari jauh memanggilnya, "Apa kabar, Pak DPR?"

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...