Bah di Media Sosial

kompasiana.com
Bila banjir biasanya hanya terjadi pada musim penghujan, Anda kini bisa menemukannya setiap hari. Di manakah itu? Di media sosial.

Banjir ini tidak mengirim air keruh dan sampah, melainkan silang-sengkarut informasi asli dan palsu, sumpah-serapah, perisakan, protes membabi-buta, kegembiraan dan kegalauan pribadi, cerita sedih dan bahagia, dan semacamnya. Semua itu berjalan bagai kereta yang susun-menyusun melintasi timeline akun media sosial kita.

Tentu saja banjir ini tidak merusak barang-barang. Tak ada perabotan yang hanyut dibawa arus, tak ada bagian-bagian rumah kita yang ambruk diterjang air, pun juga tak ada salah satu keluarga kita yang terjengkang dihantam banjir yang datang seketika. Banjir seperti ini hanya merusak isi kepala. Tapi justru di situlah masalahnya. Otak adalah organ tubuh paling vital. Energi negatif yang terus meneror kepala kita akan membuat otak menelurkan energi negatif pula pada perjalanan kehidupan kita.

Di media sosial, tak dikenal batas teritori. Apa yang terjadi di sebuah kampung nun jauh dari rumah kita bisa muncul pula di timeline. Persoalan yang bukan urusan kita justru menguasai otak kita. Akhirnya, otak kita menjadi penuh dengan masalah-masalah yang seharusnya tidak menghuni tempat tersebut.

Kita layak bertanya, apa hubungan kita dengan kasus kopi yang menewaskan Mirna? Apa hubungan kita dengan prostitusi artis? Apa hubungan kita dengan kasus pemukulan oleh politisi PDI-P kepada stafnya? Apa hubungan kita dengan kisruh Mulan dengan Maia? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pertanyaan itu masih bisa berlanjut karena masalah tidak pernah berhenti dan media sosial menyediakan tempat untuk semua itu. Bah di media sosial menuntut kita pandai bersiasat. Kita harus bisa menyaring informasi yang benar-benar kita butuhkan. Kita juga perlu menyeleksi akun-akun yang memang tidak kita inginkan kehadirannya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...