Kamu Sulit Menulis? Lakukan Satu Teknik Ini

sumber gambar: annida-online.com

Dari manakah anak-anak tahu cara berjalan, merangkak, atau mengupil? Dari mana pula mereka tahu bahwa ini namanya Dul Muin dan itu Marjuin? Atau, dari mana mereka tahu bahwa Mas Wahyu Alam LDR-an? (abaikan pertanyaan terakhir).
Satu jawaban yang paling mewakili untuk semua pertanyaan di atas adalah: meniru. Ya, mereka meniru dari orang dewasa.

Dalam dunia tulis-menulis saya kira tidak jauh berbeda. Para penulis pemula umumnya adalah peniru. Mereka meniru dari apa yang dibaca. Mereka meniru cara membuat kalimat, paragraf, meletakkan tanda baca, memilih diksi, dan sebagainya, dari pengarang yang tulisannya mereka baca.

Ini mungkin dialami oleh banyak penulis. Rata-rata mereka menulis pertama kali tidak dalam keadaan paham tata bahasa. Mereka hanya menulis begitu saja, meniru-niru tulisan yang pernah dibaca sebelumnya.

Karena itu, bagi pemula, menurut saya, belajar tata bahasa bukanlah jalan yang terlalu tepat. Mereka seharusnya meniru penulis-penulis yang sudah mapan. Bagaimana caranya? Adalah dengan memperbanyak membaca karya-karya mereka. Dari bahan bacaan yang banyak akan membuat kita lebih mudah menyusun kalimat dan menemukan formula tulisan yang apik.

Kita juga akan secara naluriah mengerti di mana tempat yang tepat untuk meletakkan koma, titik, tanda petik, dan sebagainya. Hal itu berangkat dari kebiasaan yang diulang-ulang dalam membaca.

Jika belajar tata bahasa yang dikedepankan, maka kita akan kesulitan untuk memulai menulis. Kita memang tahu teorinya, tapi cara mempraktekkannya bisa sangat sulit karena dihantui oleh berbagai kemungkinan untuk salah. Akhirnya kita tidak jua menghasilkan tulisan karena sudah merasa takut salah sejak paragraf pertama. Ini tentu bukan sesuatu yang patut dipelihara.

Belajar tata bahasa bukan sesuatu yang salah. Justru kemampuan berbahasa yang baik harus dimiliki oleh para penulis agar tulisannya tepat dan tidak membingungkan. Namun, ia mungkin akan lebih pas dipelajari oleh mereka yang sudah tidak punya masalah dengan cara membuat kalimat atau paragraf.

K. M. Faizi, kiai dan penyair asal Sumenep, dalam sejumlah kesempatan mengatakan bahwa jika kita ingin tahu cara menulis cerpen, perbanyaklah membaca cerpen. Jika ingin menulis puisi, perbanyaklah membaca puisi. Demikian juga dengan genre tulisan lainnya. Dari sini kita bisa melihat benang merahnya bahwa teknik paling mudah dalam belajar menulis adalah meniru.

AS. Laksana, salah seorang cerpenis terkemuka Indonesia, ketika awal-awal belajar menulis malah melakukan hal yang lebih “ekstrem” dari teknik ini. Ia bukan cuma meniru, tapi mengetik ulang cerita-cerita yang ditulis oleh para pengarang beken dari masa lalu. Tujuannya adalah ingin memperlancar menulis sekaligus ingin tahu bagaimana cara seorang pengarang hebat merangkai kata, sehingga orang-orang dari belahan bumi mana pun bisa terpukau dengan kata-kata tersebut.

Teknik meniru tentu saja hanya berlaku bagi pemula. Pada akhirnya, penulis pemula harus berinovasi agar mereka punya ciri khas. Jika tetap mengikuti penulis lain, maka ia tidak akan banyak dikenal orang.
Nah, dari penjelasan di atas, saya kira tak berlebihan bila saya mengatakan, jika mau belajar menulis, tirulah pengarang-pengarang hebat.

2 komentar :

Reader's Comments

  1. Disebut dan diberi back-link itu seperti diajak ke warung Kaldu Kokot, ditraktir, tapi habis itu dibully, karena LDR-an. Duh. :(

    BalasHapus