Suatu Pagi Saat Pemakaman Marjuin

kata2hikmah0fa.files.wordpress.com

Desa Jucarang pagi itu diselimuti duka mendalam. Marjuin, lelaki paling humoris di desa itu meninggal dunia. Orang-orang merasa ada sesuatu yang hilang, yaitu pelepas lelah di antara keruwetan mencari nafkah untuk anak istri mereka. Ya, Marjuin bisa berjam-jam mengocok perut mereka saat istirahat setelah bekerja di ladang.

Dul Muin adalah orang yang paling merasa terpukul atas kepergian Marjuin. Tak ada lagi yang akan memetik kelapanya yang kering, tak ada juga yang akan memanjat pohon siwalan di samping rumahnya. Lebih-lebih, tak akan ada lagi yang mau memberinya mantra pemikat wanita.

Prosesi pemakaman akan segera dilaksanakan. Beberapa warga datang ke rumah duka. Sebagian mendirikan terpal untuk atap tempat bertahlil. Sebagian lainnya siap menandu keranda untuk mengantarkan Marjuin ke peristirahatannya yang terakhir.

Keranda kini dibawa. Tahlil dikumandangkan sepanjang perjalanan. Duka kian mendalam. Anak dan istri Marjuin larut dalam tangisnya yang menyayat-nyayat perasaan. Dul Muin ikut terisak, mengingat mantra terakhir yang belum sempat ia pelajari dari guru kesayangannya itu. Katanya, mantra tersebut bisa membuat wanita mana pun terpikat dan meminta segera menikah. Dul Muin percaya hal itu.

Mayat sudah diistirahatkan di liang kubur. Kini saatnya pembacaan talqin. K. Suraji mengambil tempat untuk memimpin. Ia adalah sesepuh desa yang selalu terlibat dalam urusan keagamaan. K. Suraji terkenal baik dan agak sedikit tuli.

K. Suraji mulai membaca talqin. Kepala hadirin tertunduk, meresapi kalimat-kalimat yang dibacanya. Keadaan menjadi lindap. Hanya suara K. Saruji terdengar. Namun, tiba-tiba konsentrasi hadirin terpecah karena ada suara ponsel yang melengking hebat. Ada panggilan masuk dan Ayu Tingting segera bernyanyi: “Sambala, sambala, sambalado...”. Mahnawi tergeragap mendapati ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia menekan tombol apa pun agar ponsel itu berhenti menjerit, tapi tak berhasil. Nyanyian itu terus melengking dan baru bisa diakhiri ketika Dul Muin datang mengambilnya dan menekan tombol reject.

Sebagian orang di pojok selatan menahan tawa, sebagian lainnya tersenyum kecut. Para hadirin memaklumi karena Mahnawi baru seminggu memegang ponsel. Barang tersebut merupakan hadiah dari saudaranya yang bekerja di Malaysia.

K. Suraji tetap khusyu’ membaca talqin seperti tidak mendengar apa-apa. Atau mungkin memang tidak mendengar apa-apa.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...