Sumpah-Sumpah Anti-Mainstream Orang Madura

- Februari 18, 2016
Sebelumnya, saya sudah membahas mengenai nama-nama orang terkenal yang membuat orang Madura tersenyum saat membacanya. Sekarang saya masih akan membahas hal remeh-temeh tentang Madura, yaitu soal sumpah.

Saya menyebutnya sumpah anti-mainstream. Kalau ada anti-mainstream, berarti ada mainstreamnya dong? Iya, betul. Lalu seperti apa sumpah mainstream itu? Nah, yang saya maksud sumpah mainstream di sini adalah lafal-lafal sumpah yang dikenal dalam agama Islam atau yang disebut sumpah qosam, seperti billahi, tallahi, dan wallahi.

Di Madura, ada juga orang yang menggunakan sumpah tersebut, tetapi ada jenis-jenis sumpah lain yang merupakan produk lokal atau mungkin pula dari penerjemahan bahasa lain. Karena itu, saya menyebutnya sumpah anti-mainstream. Apa saja sumpah-sumpah tersebut? Mari simak.

Por kelap
Orang Madura itu suka menyingkat-nyingkat kata.  E temor songai (di timur sungai), misalnya, disingkat menjadi e mor songai, atau gunong temor (gunung timur) menjadi nong temor. Dalam hal sumpah ,por kelap ini pun sama belaka. Aslinya ia adalah etappor kelap (disambar petir).

Contoh untuk sumpah ini dalam percakapan sehari-hari, misalnya, "Por kelap, engko’ ta’ ngala’ lebbarra" (Sambar petir, saya tidak mencuri kolormu). Maksud dari pernyataan tersebut adalah mudah-mudahan saya kena sambar petir kalau saya mengambil kolormu.

Saya tidak tahu apakah sumpah ini merupakan adaptasi dari sumpah sambar gledek dari tanah Jawa atau memang orang Jawa yang menerjemakannya ke dalam bahasa mereka. Ini perlu penelitian mendalam agar tidak terjadi silang-sengkarut pemahaman yang bisa berakibat terganggunya stabilitas dunia.

Kaper
Kaper itu artinya kafir. Contoh dalam percakapan sehari-hari, misalnya, "Kaper, engko’ ta’ akento’" (kafir, saya tidak buang angin). Maksudnya, mudah-mudahan saya menjadi kafir kalau berbohong telah buang angin.

Haram
Haram, ya, haram. Contoh dalam percakapan, misalnya, “Haram, tang kalenceppan ta’ beu” (haram, ketiak saya tidak bau).

Saya tidak tahu apa maksud sumpah ini. Apakah ketiaknya menjadi haram kalau ia berbohong, sehingga tangan yang menyentuhnya harus dibilas air sebanyak tujuh kali dan pada salah satu bilasannya harus dicampur dengan debu.

Sompa
Sompa itu artinya sumpah. Contohnya, “Sompa reh, tang manu’ ce’ rajena. Dujan ongghu pangakana” (sumpah, burung saya besar sekali. Makannya sangat lahap).

Sumpah ini agak aneh. Maksudnya tidak jelas. Ia bersumpah dengan cara memberitahu orang lain bahwa ia bersumpah. Apa maksudnya coba?

Billa
Ini plesetan dari sumpah mainstream, billahi. Mungkin pengucapnya takut kena dosa, sehingga memilih cara aman dengan memotong kalimatnya. Semacam ingin mengelabui Tuhan. Contohnya, "Billa, engko’ ta’ ngakan tellora be’en" (billa, saya tidak makan telurnya kamu).

Sebetulnya, masih ada beberapa sumpah anti-mainstream lainnya yang belum saya sebutkan. Tapi, tulisan ini saya cukupkan saja agar tidak terlalu panjang. Orang biasanya malas kalau membaca tulisan panjang, apalagi tulisan tidak menarik seperti ini. Mereka lebih suka panjang-panjang yang lain ketimbang tulisan.

*sumber gambar: merdeka.com
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search