KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Apakah Ayah Marah Sama Belia?


“Apakah Ayah marah sama Belia?”

“Apakah Ayah terlihat marah di mata Belia?”

“Tidak, Yah. Ayah tidak kelihatan marah. Tapi, Ibu tampaknya tidak senang. Dia bilang yang terjadi semua ini gara-gara Belia tidak rajin belajar, sehingga tidak mendapat ranking tahun ini.”

“Itu karena Ibu sayang Belia. Dia tak ingin Belia menjadi orang yang malas.”

 “Tapi, Belia tidak suka orang yang marah-marah.”

“Kalau tidak mau orang marah-marah, Belia harus banyak berbuat baik kepadanya. Kalau tidak mau Ibu marah, Belia harus rajin belajar.”

“Tapi, mengapa Ayah tidak ikut marah seperti Ibu?”

“Boleh kan berbeda?”

“Tentu saja, Yah. Tapi, maksud Belia, apa alasan Ayah tidak ikut marah?”

“Ayah menganggap ini hal yang sepele. Ranking itu hanya bagian kecil dalam proses belajar. Ayah lebih senang melihat Belia rajin datang ke Bu Nyai untuk belajar baca Al-Qur’an dan salat, ketimbang Belia di atas panggung dengan piala besar. Ayah lebih suka Belia berlama-lama dengan buku dan kitab, ketimbang hanya belajar semalam demi bisa menjawab soal-soal ujian sekolah yang bisa mengantarkan Belia menjadi juara.”

“….”

“Ayah di sekolah dulu punya teman yang aneh. Aneh menurut saya dan teman-teman. Dia orang yang sangat cerdas. Matematikanya bagus, kitabnya oke, pengetahuan umumnya juga luas. Dia rajin membaca. Tapi, tiap akhir semester nilainya selalu jelek. Lalu, suatu kali Ayah bertanya mengapa nilainya sangat jelek ketimbang nilai teman-teman yang lain. Dia bilang bahwa dia sangat malas dengan nilai-nilai rapor, apalagi dengan peringkat-peringkat juara. Tiap kali mengikuti ujian sekolah, dia selalu mengerjakannya asal-asalan. Sengaja dibikin salah. Nah, dari sini Ayah mulai sadar bahwa ada hal penting yang kadang dilupakan orang, yaitu lebih mengedepankan aspek penghargaan ketimbang proses-proses yang lain. Itu tidak bagus untuk kehidupan masa depan kita.”

“Lalu, apakah Ayah tidak bangga kalau Belia naik panggung karena mendapat ranking kelas?”

“Tentu saja Ayah bangga. Penghargaan semacam itu sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Pada sisi tertentu, itu akan menambah motivasi. Maksud Ayah, pengharagaan semacam itu akan menjadi buruk jika menjadi acuan utama. Jadi, mereka ngotot belajar hanya agar mendapat juara. Itu yang kurang bagus. Karena itu, Belia harus sadar bahwa penghargaan dan semacamnya itu hanya buah dari ketekunan kita. Itu bagian dari proses, bukan tujuan.”

“Baik, Yah. Belia sekarang mengerti.”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar