Meramal Kematian Media Cetak di Madura

Tulisan ini pernah terbit di Kabar Madura, edisi 22 Januari 2015

Siapa yang bisa menjamin media cetak di Madura akan bertahan sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan? Tidak ada. Sebagai bagian dari lini bisnis, media cetak lumrah dihadapkan dengan situasi sulit. Suatu waktu ia mengalami kejayaan dan pada waktu yang lain mengalami kejatuhan. Banyak faktor yang menyebabkan kejatuhannya, salah satunya adalah perkembangan teknologi.

Media Cetak vs Media Online
Musuh besar media cetak adalah teknologi informasi, dalam hal ini internet. Berhadapan dengan internet, media cetak dipaksa mengubah persepsi atas dirinya. Salah satu unsur terpenting dalam dunia jurnalisme, yaitu kecepatan, kini mulai redup dalam diri media cetak. Kecepatan persebaran informasi itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh internet.

Internet memang bukan yang pertama melakukan serangan terhadap media cetak. Sebelumnya sudah ada radio dan televisi. Sejak keduanya berkembang, berita-berita lempang di media cetak menjadi kurang menarik. Orang sudah lebih dulu tahu informasi terpenting dari radio maupun televisi, sementara dari media cetak masih harus menunggu keesokan harinya. Saat sampai di tangan pembaca, berita itu sudah basi.

Salah satu akibat dari pukulan telak yang dihantamkan internet kepada media cetak adalah media cetak dipaksa mengoreksi model pemberitaannya. Yang jelas, internet menawarkan informasi yang real time, sesuatu yang tidak dimiliki oleh media cetak. Karena media cetak tidak bisa bersinergi soal waktu, maka ia harus mengalah dan menawarkan hal lain di luar soal kecepatan rilis berita, yaitu komprehensi, akurasi, dan kelengkapan berita. Media cetak cenderung lebih “akurat” ketimbang media online.

Real time sebenarnya bukan tanpa resiko. Semakin cepat berita disiarkan, tingkat akurasinya semakin sempit. Karena itu, media cetak memaksimalkan akurasi dengan cara cross check yang ketat. Sementara media online miskin soal ini karena didesak oleh kecepatan waktu rilis.

Selain itu, teknologi memaksa media cetak mengubah model berita dari “what news” (apa) menjadi “why news” (mengapa) (Luwi Iswara, 2008). “Why news” merupakan berita analisis yang mendalam atau in-depth reporting. Kedalaman, akurasi dan kelengkapan berita menjadi nilai lebih yang ditawarkan media cetak.

Media cetak selalu butuh sesuatu yang baru untuk bertahan hidup. Jika tetap menggunakan model “what news”, maka ia menggali kuburnya sendiri karena berita “what news” kini sudah dimiliki oleh media online. Jika media cetak tetap menggunakannya, ia akan kalah saing dalam soal kecepatan.

Tantangan Media Cetak di Madura
Lalu, mari kita tengok bagaimana situasi berita di media-media cetak lokal Madura. Jika kita perhatikan, berita-berita yang muncul tak pernah beranjak dari model berita “what news”. Memang ada berita-berita model “why news” , tapi masih sangat minim dan penggarapannya belum maksimal. Berita dengan analisis yang mendalam belum banyak kita temukan.

Membuat berita mendalam tentu saja beresiko bagi wartawannya. Mereka butuh mengeluarkan banyak tenaga untuk menggali informasi dari sumber berita. Masalahnya, tidak semua wartawan mau melakukan itu. Dan terlebih lagi tidak ada media yang mau merintisnya. Mereka masih asyik dengan gaya lama.

Sebenarnya, terlena dengan model pemberitaan demikian bukanlah situasi yang menggembirakan. Internet kini menyiapkan pukulan telak yang bisa saja meruntuhkan pertahanan media cetak di Madura.

Saat ini, media online memang belum menjadi jujukan utama masyarakat Madura dalam mencari informasi. Sebagian dari mereka tetap bertahan dengan media cetak. Segmen pembaca level ini umumnya diisi oleh kalangan sepuh yang kesulitan berinteraksi dengan teknologi.

Harapan pengelola media online adalah anak muda yang melek informasi dan teknologi. Harapan ini mulai menampakkan hasil karena interaksi mereka di media sosial. Berita dari laman yang dibagikan di media sosial menggiring mereka masuk ke laman utama. Dari situ mereka kemudian membaca informasi-informasi lain yang menarik perhatian. Jika beritanya terus update, maka kemungkinan besar mereka akan kembali mengunjungi laman tersebut.

Masalahnya, sampai saat ini belum ada media online lokal Madura yang dikelola secara profesional. Kebanyakan masih mengandalkan berita-berita bombastis yang miskin akurasi. Lebih sering krunya malas liputan dan hanya mengandalkan berita dari media-media lain. Kadang berangkat dari isu-isu di media sosial yang diangkat tanpa perlu konfirmasi.

Ketiadaan media online yang profesional ini membuat media cetak masih bertahan di takhtanya. Orang merasa masih “kurang percaya” kepada media online di Madura. Jika kelak ada media online yang bisa profesional, keberadaan media cetak akan terancam. Orang-orang akan meninggalkannya. Pilihan mereka hanya dua: berbenah atau berteduh di bawah ketiak pemerintah.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...