KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Orang Madura itu Ramah-Ramah, Mas


Ini cerita dari teman sekantor saya, anggaplah namanya Midun. Suatu ketika, ia mendapat tugas dari atasan kami untuk menjemput dua orang tamu, laki-laki dan perempuan, dari Jakarta. Si tamu datang untuk urusan membahas proyek terkait lingkungan.

Bersama seorang sopir, anggaplah namanya Dul Muin, si Midun berangkatlah menuju bandara Juanda, Surabaya. Dinginnya pagi menerobos kaca mobil. Keduanya mengenakan jaket untuk menghalanginya. Tapi tampaknya tak cukup berhasil. Hawa dingin masih meraja.

Dul Muin bukan sopir tetap kantor kami. Dia dipilih karena sopir tetap kami menikah dan memilih berhenti kerja. Sopir tetap memang sudah ada gantinya, tapi dia belum paham lekak-lekuk jalan di Surabaya. Alhasil, Dul Muin-lah yang diminta untuk menjadi sopir pada kesempatan tersebut. Dia sudah lama menjadi sopir dan tak perlu diragukan lagi pengetahuannya tentang ruas-ruas jalan di Surabaya.

Saat sampai di bandara, tanpa membutuhkan waktu yang panjang, Midun segera mengenali sosok yang akan dijemputnya. Mereka memang sudah dikenal oleh karyawan kantor kami karena kunjungan kali ini bukanlah yang pertama. Mereka terlibat urusan sejumlah proyek dengan kantor kami sejak beberapa tahun sebelumnya.

Setelah makan dan istirahat sebentar di warung kaki lima tak jauh dari bandara, mereka mulai beranjak menuju Madura. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol panjang lebar. Midun yang terbiasa berseloroh, membuat suasana perjalanan menjadi gayeng. Suhu panas siang itu sedikit terobati dengan obrolan-obrolan yang bersifat banyolan.

Bagi Dul Muin, ini adalah pertemuan pertama dengan kedua tamu tersebut. Tapi, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengenal lebih jauh si tamu. Dul Muin pun ikut nimbrung dengan sok akrab.
“Orang Madura itu ramah-ramah, Mas. Tidak suka marah, apalagi kekerasan,” kata Dul Muin kepada tamu laki-laki. Ia tampak seperti sales obat panu. Si tamu berkata dengan intonasi yang sepertinya dipaksa menampilkan mimik muka penasaran, “Oh, gitu ya?”.

Obrolan berlanjut dengan kosakata bahasa Indonesia Dul Muin yang sungguh minim. Ia tidak merasa malu walau beberapa kata terpaksa ia terjemah dengan semena-mena dari bahasa Madura. Mendengar hal itu, Midun hanya tersenyum kecut. Sementara kedua tamu hanya senyum-senyum tidak mengerti.

Perjalanan sudah sampai di Kota Sampang. Mobil yang mereka tumpangi berjalan dengan ritme yang agak kencang. Kendaraan-kendaraan di lajur sebelah lumayan ramai. Tiba-tiba dari arah depan melaju kencang sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang anak muda tak berhelm. Dia ngebut dan menyalip beberapa mobil di depannya. Tapi, saat menyalip itulah hampir saja ia menabrak mobil yang dikendarai Dul Muin. Sontak Dul Muin kaget dan melontarkan kata-kata yang paling ia anggap pas untuk mengumpat, “Hoyyy... Pate’ reh. Ngabes matanah. Korang ajar”.

Semua penumpang kaget. Untung saja motor si anak muda segera melesat ke arah samping mobil kami, sehingga tabrakan tidak terjadi.

Mendengar umpatan Dul Muin yang masih berlanjut, si tamu laki-laki dengan senyum-senyum bilang, “Sabar, sabar, orang Madura itu ramah-ramah.”

Dul Muin yang mendengarnya tersenyum kecut. Teringat apa yang diucapkannya beberapa waktu lalu, tapi dilanggarnya barusan. Midun tersenyum geli. Di dalam hatinya ia berkata, “Dhulat!”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar