Jumat, 29 Juli 2016

Mungkin Dia Mengira Saya Lulusan Universitas di Pluto


Tahun 2014 lalu, saya diutus oleh sekolah tempat saya mengajar ke VEDC, Malang, untuk mengikuti pelatihan Kurikulum 2013. Waktu itu, pemerintah memang sedang gancar-gencarnya melakukan sosialisasi K-13 agar segera bisa diimplementasikan di tiap-tiap lembaga pendidikan. Para guru dari berbagai daerah diundang untuk tujuan dimaksud.

Di pelatihan tersebut, saya berjumpa dengan guru-guru dari sejumlah lembaga SMK dan SMA di Jawa Timur. Mereka semua adalah guru materi bahasa Indonesia. Saya pun begitu.

Perjumpaan itu membuat saya merasa seperti anak ayam di tengah lautan bebek. Terasing dan dungu. Celingak-celinguk lupa arah dan lupa daratan. Bukan karena tidak pandai bergaul, tapi lebih karena saya buta sama sekali terhadap tema yang dibicarakan. Sebagai guru baru dan dari kampung sekampung-kampungnya, yang ke sekolah “sekadar” mengajar, saya tidak pernah menggunakan administrasi-administrasi keguruan selayaknya guru-guru bangkotan. Waktu itu, saya tidak mengenal silabus, RPP, dan lainnya.

Selain itu, pelatihan-pelatihan seperti ini seringkali tidak menarik, monoton dan membosankan. Saat fasilitator sedang presentasi, kantuk biasanya segera menyerang. Konsentrasi menjadi hilang. Hadir ke acara tersebut bagi saya hanya untuk menambah pengalaman dan teman, selebihnya jalan-jalan.

Ketidakpahaman saya terhadap materi yang diperbincangkan juga disumbangkan oleh riwayat pendidikan saya. Di jenjang perkuliahan, saya memilih jurusan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia pendidikan, yaitu jurusan Tafsir Hadis (TH). Diplesetkan oleh teman-teman menjadi Teknik Hadis.

Di sepanjang perkuliahan tidak pernah ada materi administrasi pendidikan. Maklumlah karena memang bukan jurusan pendidikan. Sebenarnya, ada cara untuk mendapatkannya. Para mahasiswa harus mengikuti akta 4, yaitu semacam kuliah singkat untuk memperoleh sertifikat keguruan. Namun, pada masa saya kuliah, program itu baru saja dihapus.

Baca Juga: Mengikis Stereotip Orang Madura Lewat Internet

Dari kuliah jurusan Tafsir Hadis itu, saya memperoleh gelar S.Ud. (Sarjana Ushuluddin). Titel ini tidak menaikkan gengsi. Terdengar aneh dan kurang enak jika awalannya ditambah huruf R. Malah menyeramkan.
Selain aneh, gelar ini juga tidak populer. Mungkin karena baru atau entah apa. Kebetulan, saya adalah angkatan pertama untuk penyandang gelar tersebut.

Ketidakpopuleran itu saya rasakan ketika mendaftarkan biodata untuk keperluan sertifikat pelatihan K-13 di atas. Saat pelatihan akan berakhir, oleh panitia, para peserta diminta untuk memverifikasi dan melengkapi biodata masing-masing. Saya pun ambil bagian.

“Nama lengkapnya siapa, Mas?” tanya petugas di meja administrasi saat saya mendaftar.

“Fahrur Razi,” kata saya. Di ijazah nama saya tertulis Fahrur Razi, tapi untuk keperluan yang tidak penting saya lebih suka menulis Fahrur Rozi. Soal ini, ada cerita tersendiri.

“Gelar sarjananya?”

“S.Ud.”

“Apa, Mas?”

“S.Ud.”

“S.Ud.? Mohon ditulis di sini, ya, khawatir nanti saya salah nulis,” katanya sambil menyodorkan kertas dan bolpoin ke hadapan saya. Saya menuliskannya dengan baik dan benar. Lalu, saya kembalikan kertas tadi. Si petugas kemudian membaca dan manggut-manggut.

“S.Ud. itu apa sih, Mas?” tanyanya disertai senyum berlapis separuh ketidakmengetian dan separuhnya lagi keanehan. Mungkin dia mengira saya lulusan univeritas di Pluto.

“Sarjana Ushuluddin,” jawab saya.

“O, Ushuluddin. Wah, hebat, ya, sarjana Ushuluddin ngajar bahasa Indonesia.”
Saya tersenyum menimpali senyumnya. Lalu, saya pergi dengan perasaan terharu, melihat diri yang hina dina ini.
Share:

2 komentar:

  1. He, seru tad. Oh iya meski ustad lulusan usuluddin yang mengajar bahasa indonesia. Namun ustad adalah orang pertama motivator saya dalam membaca dan menulis. Apa lagi namanya sama fahrur rozi. Hanya panggilannya uung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Terima kasih sudah termotivasi. Selamat menyelami dunia tulis-menulis.

      Hapus