KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Ramadan di Media Sosial


Tiap tahun, Ramadan selalu punya nuansa baru. Tentu saja, karena dunia ini tidak statis. Selalu ada hal-hal baru yang datang tiap saat. Namun, sejak datang era media sosial, Ramadan mengirim wajah baru yang benar-benar berbeda.

Hari ini, media sosial adalah rumah kedua bagi sebagian besar umat manusia. Mereka sulit sekali dilepaskan darinya. Mungkin bisa disebut adiktif. Dan itu tanpa dirasa.

Iqbal Ajidaryono, seorang penulis, pernah membuat status di akun facebooknya. Ia berbagi pengalaman tentang bagaimana facebook menyita sebagian waktunya untuk menulis. Beberapa penulis lainnya juga mengalami hal yang sama.

Di media sosial, waktu bergerak cepat. Lini masa yang kita pantau seperti magnet yang menarik untuk selalu dinikmati. Percakapan-percakapan dari status ke status selalu meminta untuk diperhatikan.

Manusia umumnya adalah makhluk yang suka bergerombol. Mereka suka ngobrol-ngobrol, membicarakan apa pun yang kadang berujung ghibah bahkan fitnah. Sebelum adanya media sosial, kita bisa melihat kecenderungan itu lewat warung kopi, pos ronda, taman-taman, dan sebagainya. Di sana mereka menghabiskan banyak waktu dengan bercakap-cakap. Jarang sekali kita melihat mereka, misalnya, membaca buku.

Kecenderungan tersebut menemukan habitatnya yang pas di dalam media sosial. Meski pembicaraan lisan tidak mendominasi, tetapi orang bisa dengan mudah berinteraksi layaknya bercakap-cakap sebagaimana di warung kopi, lewat bahasa tulis. Gosip-gosip berpindah tempat dari warung kopi ke media sosial. Curhatan-curhatan yang biasanya hanya disampaikan kepada satu dua orang, saat masuk di media sosial, kini menjadi konsumsi publik.

Di media sosial tata aturan sosial banyak dilabrak. Hal-hal yang kadang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, justru muncul di sana. Misalnya, dulu kita begitu jarang menjumpai seorang yang mencaci-maki kiai karena tidak sejalan dengan kita dalam memahami agama. Jika pun ada, paling-paling mereka hanya menyampaikannya di hadapan teman-temannya. Sekarang, dengan adanya media sosial, kita justru menemukan itu nyaris tiap hari.

Ramadan tidak menyurutkan orang untuk mencaci-maki di media sosial. Bulan yang mulia ini nyaris tak ada bedanya dengan bulan-bulan lainnya.

Beberapa waktu lalu, ketika KH. Mustofa Bisri menulis sebuah status yang menanggapi tentang razia satpol PP terhadap warung makan di Serang, Banten, banyak sekali yang menyerang beliau lewat tanggapan-tanggapan yang kadang bernada menghujat, mencaci-maki, dan bahkan berkata-kata kotor. Hal itu mereka lakukan karena punya pemahaman yang berbeda dengan Gus Mus. Mereka melakukannya dengan enteng saja, seakan tanpa beban.

Melihat hal semacam itu, kita sedang dihadapkan dengan persoalan moral yang begitu serius. Perbedaan pendapat masih sulit kita terima dengan lapang dada. Padahal, kita bisa menyampaikan tanggapan terhadap pendapat itu dengan cara yang sopan, tidak perlu mencaci maki, tidak perlu saling menghujat. Saya kira itu lebih elok. Atau mungkin saya kurang gaul?

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar