Mengikis Stereotip Lewat Internet

- Oktober 07, 2016
Suku Madura (lontarmadura.blogspot.com)

Agustus 1990, saya diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan Ilmu Sosiatri Fisipol UGM. Sebagaimana biasanya mahasiswa baru, masa-masa awal kuliah sangat memungkinkan untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Teman-teman saya yang rata-rata perempuan, kerap mengernyitkan dahi atau memelototkan mata ketika saya memperkenalkan diri sebagai orang Madura. Dalam perkenalan lebih lanjut, mereka heran ketika mengetahui bahwa saya bukan berasal dari keluarga tukang sate, tukang soto dan tukang cukur. Hal serupa dialami adik saya. Ketika KKN, teman-teman KKN-nya menjulukinya orang Jawa karena ia tidak pernah marah.
 

 ...

Cerita lain berasal dari seorang teman (bukan orang Madura) yang sedang menempuh pendidikan Magister dan kebetulan menulis tesis tentang Madura. Penyusunan tesis tersebut mengharuskannya melakukan penelitian di Madura. Ketika rekan-rekannya mengetahui tentang hal ini, mereka heran dan menyebut teman saya itu sebagai “sangat berani”. Rupanya, masuk ke Madura sama dengan masuk ke kandang macan atau setidaknya harus siap berhadapan dengan laki-laki Madura yang dikenal suka melakukan carok.


Kutipan di atas saya ambil dari buku Jembatan Suramadu: Respon Ulama terhadap Industrialisasi (LKPSM, 1998). Muthmainnah, si penulis buku, menceritakan sebagian pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang luar Madura saat ia kuliah di Jogjakarta. Dari fakta-fakta yang ia urai, tampak sekali bahwa pandangan negatif terhadap orang Madura sudah mengakar begitu kuat.

Pengalaman serupa pernah saya alami sendiri beberapa tahun lalu. Dalam sebuah acara di Malang, teman sekamar saya yang kebetulan orang Jawa bertanya, “Madura itu katanya panas, ya, Mas? Orang-orangnya  katanya suka carok. Senggol dikit, carok.” Saya jawab saja sambil senyum-senyum bahwa tidak semua orang di Madura itu suka carok. Bahkan yang tidak suka lebih banyak dari yang suka.

Orang Madura memang seringkali digambarkan sebagai suku yang temperamen dan barbar. Jika menyebut Madura, hal pertama yang tergambar dalam benak banyak orang adalah kemudahannya melepaskan nyawa dari batang tubuh seseorang. Alasan untuk itu pun bisa cukup sepele, misalnya karena kena senggol saat berjalan. Karenanya, orang Madura juga sering bersinonim dengan senjata. Bahkan ada olok-olok, jika semua senjata orang Madura dibuang ke selat Madura, selat tersebut tak akan bisa dilintasi. Saking banyaknya.

Stereotip terhadap orang Madura sebetulnya punya akar sejarah yang cukup jauh, yaitu sejak masa kolonial. Dalam buku Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Madura dan Kebudayaan Madura (LKiS, 2012), Huub de Jonge mengurai sejumlah data tertulis tentang kesan negatif orang-orang Belanda terhadap orang Madura yang termuat dalam beberapa terbitan; majalah, koran, dan jurnal. Mereka menggambarkan orang Madura sangat kasar, kurang ajar, terbuka, blak-blakan, tidak tahu tatakrama dan tak punya sopan santun. Benar-benar berbeda dari karakter orang Jawa ataupun Sunda yang lebih lembut dan sopan.

Orang Madura juga digambarkan memiliki struktur tubuh yang cukup jelek. Lebih jelasnya, saya tuliskan pernyataan Van Gennep yang dikutip de Jonge:

“Dengan mudah dibedakan dari orang Jawa. Perawakan mereka lebih kekar dan berotot, tapi tidak lebih besar, muka lebih lebar dan tidak halus, tulang pipi sangat menonjol, dan tampang lebih galak dan sering kasar.” (1921:184)

Perempuan Madura pun tak luput dari stereotip. Brandt Buys menggambarkannya sebagai sosok yang tidak terlalu anggun dan berwibawa. Struktur tulangnya kelewat kasar dan mukanya terlalu bebal. Gadis-gadis ciliknya memang halus, tapi segera menjadi kasar setelah menginjak masa dewasa.

Stereotip itu terus berkembang hingga zaman setelah kemerdekaan. Pada tahun 1985, muncul sebuah film berjudul “Carok”, disutradarai oleh Imam Tantowi dan dibintangi oleh Berry Prima dan Yenny Farida. Film ini memenangi Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1985 untuk kategori pemeran pendukung pria terbaik.

Film “Carok” mungkin hadir bukan untuk menanamkan stereotip terhadap orang Madura ke dalam benak penonton. Namun, secara tidak langsung, ia kian mengukuhkan anggapan orang luar bahwa Madura itu memang identik dengan carok. Adegan-adegan yang ada dalam film tersebut kian menguatkan asumsi mereka yang sudah tertanam selama ini.

Stereotip itu terus berkembang juga karena belum banyak buku ataupun terbitan-terbitan yang bisa mengenalkan Madura lebih detail. Sedikit sekali yang mau menuliskan kearifan-kearifan lokal yang sebetulnya banyak dimiliki Madura. Umumnya peneliti beranggapan bahwa kebudayaan Madura merupakan turunan dari Jawa, sehingga mereka tidak merasa perlu datang ke Madura jika sebelumnya sudah pernah meneliti Jawa.

Selain itu, dari pihak orang Madura juga tidak banyak yang berusaha mengikis stereotip atas diri mereka. Mungkin karena tidak banyak orang yang bisa menulis saat itu atau karena terbatasnya dana penerbitan. Yang jelas, buku ataupun terbitan tentang kearifan-kearifan lokal Madura tidak banyak beredar.

Zaman Internet, Kesempatan Emas bagi Orang Madura

Internet kini sudah merasuk jauh ke dalam nadi kehidupan manusia. Tak hanya di kota, masyarakat desa pun juga bisa menikmatinya. Seperti saya yang mengelola blog ini. Saya orang desa yang jauh dari keramaian.
Internet mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Saat ini, banyak aktivitas yang bisa dilakukan lewat internet; tukar-menukar pendapat, membeli atau menjual barang, konsultasi kesehatan, memesan tempat menginap, memesan makanan, memesan ojek, dan sebagainya. Intinya, aktivitas kehidupan ini sebagian besar sudah ditarik ke dalam dunia digital.

Baca Juga: Orang Madura itu Ramah-Ramah, Mas

Tersebarnya internet ini menjadi angin segar bagi sejumlah kalangan di Madura yang menyadari adanya peluang besar untuk mengikis kesan negatif terhadap diri mereka. Lewat blog-blog yang dikelola komunitas ataupun pribadi, mereka mencoba mengenalkan sisi positif yang ada di Madura. Mereka berharap dengan adanya berita-berita positif tersebut, orang-orang luar bisa mendapatkan informasi yang lebih berimbang, bahwa di Madura tidak hanya ada carok belaka.

Salah satu orang yang getol menulis kearifan lokal Madura adalah K. Dardiri Zubairi. Lewat akunnya di Kompasiana dan blog Rampak Naong, beliau banyak mengangkat sisi positif Madura. Sisi positif itu bisa menyangkut falsafah hidup ataupun adat dan tradisi Madura.

Banyak hal mengemuka dari apa yang beliau tulis. Misalnya tentang sikap teguh dan pantang menyerah, kesederhanaan hidup, penghormatan kepada tamu, dan sebaginya, yang ada dalam kehidupan masyarakat Madura. Semua itu berasal dari pengalaman beliau membaca keseharian masyarakat Madura.

Dalam sebuah kesempatan, K. Dardiri pernah menyampaikan bahwa harus lebih banyak lagi orang Madura yang menulis tentang Madura. Karena, menurut beliau, yang lebih banyak tahu tentang seluk-beluk Madura adalah orang Madura sendiri. Jangan diserahkan kepada orang luar yang tidak bersentuhan langsung dengan denyut nadi kebudayaan Madura.

Selain K. Dardiri, ada juga sastrawan Syaf Anton WR. Dia mengelola blog Lontar Madura. Dalam blognya, dia mempublikasikan tentang tradisi dan kebudayaan Madura. Perhatiannya terhadap sastra Madura juga cukup besar. Kajian-kajian kesusastraan Madura bisa juga dijumpai dalam blog tersebut.

Ada juga komunitas blogger Madura, yaitu Plat-M, yang juga memiliki minat besar terhadap publikasi kearifan lokal Madura. Komunitas ini berdiri pada tahun 2009 dengan tagline “Menduniakan Madura”. Saat ini anggotanya sudah tersebar di empat kabupaten yang ada di Madura. Ada juga beberapa anggota lain dari luar Madura.

Lewat blog komunitas maupun blog pribadi, para anggota menulis tradisi-tradisi unik yang ada di Madura. Mereka juga mempopulerkan sejumlah destinasi wisata yang belum banyak dikenal orang. Kepopuleran Gili Labak, salah satunya, juga berkat publikasi yang dilakukan oleh blogger Plat-M.

Selain mempopulerkan Madura, Plat-M juga mendorong tumbuhnya narablog-narablog baru yang kelak akan kian memperluas penyebaran local wisdom Madura. Mereka dilatih untuk bisa menulis dan mengelola blog.

Penutup

Masih banyak narablog-narablog lain yang belum sempat dicatat di sini karena keterbatasan wakyu yang saya miliki. Mereka juga berusaha berbagi kepada orang luar terkait kehidupan masyarakat Madura lewat konten-konten di blog ataupun video di youtube.

Para narablog Madura sebenarnya tidak membantah adanya carok di Madura. Namun, mereka tidak mau orang menggeneralisir bahwa semua orang Madura suka carok. Itu adalah kesimpulan yang sangat tergesa-gesa.

Selain itu, Madura juga memiliki banyak sekali falsafah kehidupan yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Publikasi teladan-teladan tersebut akan menjadi informasi berimbang terhadap stigma yang sudah kadung jauh mengakar dalam alam bawah sadar orang luar Madura.
Advertisement

5 komentar

avatar

Paleng ta' maca reh. Hahaha

avatar

mareh ebacah ampon. Tak olle su'uddzanan caen. hahah

avatar

Membaca tulisan ini saya jadi ngedadak inget dengan dosen saya yang orang Madura. Salah satu dosen favorit saya dan teman-teman. Beliau baik banget, ramah, dan tolerir.

Perihal stereotip, sebenarnya bukan cuma orang Madura. Setahu saya, semua unsur-unsur yang ada di kita punya Stereotip-nya sendiri menurut kacamata orang lain (baik sisi positif maupun negatif). Kadang itu benar, tidak jarang juga cuma isapan jempol. Balik lagi ke individu masing-masing sih. hehe.

Oiya, salam kenal ya :)

avatar

Betul, Mas. Cuma kadang-kadang stereotip yang menyangkut sebuah suku itu lebih besar efeknya dibandingkan stereotip yang menyangkut pribadi

Salam kenal balik, Mas :D


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search