Kesederhanaan itu Mahal

- Maret 23, 2017

Kesederhanaan itu mahal. Atau memang tak ternilai, terutama di zaman narsis ini. Orang-orang berlomba-lomba ingin diperhatikan, dipuji, dan terlihat mewah. Apa pun yang melekat pada diri mereka harus serba bernilai. Sebab, itulah yang membuat orang-orang di sekitarnya terpukau dan kadang iri.

Tidak penting benda-benda yang dimiliki bukan benar-benar miliknya. Tidak jadi soal berapa tagihan tiap bulan untuk melunasi kreditan. Atau, tidak masalah punya kendaraan bodong asal bisa bergaya ke mana-mana. Toh, orang-orang tidak akan tanya STNK dan BPKB. Mereka hanya melihat luarnya saja.

Kesederhanaan adalah soal sikap hidup. Tidak semua orang memilikinya. Hanya mereka yang benar-benar mengerti hakikat hidup yang bisa dengan santai melakoninya. Sikap itu menjadi berat karena manusia adalah makhluk sosial. Mereka butuh bergaul dengan orang lain.

Baca Juga: Sumpah-Sumpah Anti-Mainstream

Ketika berinteraksi, sikap hidup mereka kadang mengalami perubahan-perubahan. Cara pandang orang terhadap nilai-nilai sosial menjadi cair, bahkan kadang terjadi benturan-benturan. Ketika kapitalisme tertanam begitu kuat dalam kehidupan, kelas-kelas sosial terbentuk berdasarkan jumlah kapital. Orang-orang yang punya harta berlimpah akan dihormati sedemikian rupa. Dan orang-orang miskin hanya akan menjadi babu yang merunduk-runduk takzim kepada orang kaya.

Berhadapan dengan cara pandang seperti ini, kita akan sulit untuk berkomitmen menjadi orang sederhana. Keberadaan orang lain di sekitar kita yang mengamini kapitalisme menjadi batu sandungan yang bisa meruntuhkan komitmen kita. Jean Paul Sartre bilang bahwa orang lain adalah neraka. Boleh jadi ungkapan itu sesuai dengan konteks ini.

Kesederhanaan bisa lahir dari sebuah komitmen yang kuat. Kesadaran akan nilai-nilai kehidupan yang luhur membantu manusia mengendalikan nafsunya untuk menjadi serakah. Serakah terhadap harta ataupun pengakuan kelas-kelas sosial.

Ini memang butuh perjuangan. Butuh alienasi dari nilai-nilai mainstream yang dijadikan kiblat. Karena itu, berbeda menjadi penting dalam hal ini. Berbeda dari kebiasaan umum adalah kunci. Dan itu tidak mudah dilakukan.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search