KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Perempuan Penyerobot


Suatu sore di SPBU. Antrean pengguna sepeda motor mengular cukup panjang. Pompa khusus premium memang sering seperti itu di kampung kami. Jauh berbeda dengan pompa pertamax, solar, ataupun pertalite yang selalu kesepian. Premium banyak sekali penggemarnya. Di antara para penggemar itu adalah saya. Harganya yang paling murah adalah alasan utama saya memilihnya, mungkin juga bagi para penggemar yang lain. Tak jadi soal bila premium disebut sebagai bahan bakar kualitas jelek. Yang penting motor bisa jalan. Orang miskin mah simpel (yaialah, kagak punya modal).

Mengentre di pom bensin kampung kami harus sigap. Jika antrean cukup panjang, lengah sedikit bisa-bisa ada penyerobot. Bila bertemu penyerobot macam begitu rasa-rasanya ingin saya tampar pakai bakiak. Tapi, untungnya saya tidak dianugerahi perangai Abu Jahal. Jadinya cuma ngedumel dan memaki-maki dalam hati. Namanya di dalam hati, ya, tak akan ke mana-mana. Justru merusak pikiran sendiri.

Sore itu antrean relatif lancar. Saya duga semua pengantre selalu sigap, sehingga tidak ada celah bagi penyerobot. Namun, suasana itu berubah ketika ada seorang perempuan cantik tiba-tiba nyelonong di sebelah kami dan memotong antrean di bagian depan. Kampret. Dia memanfaatkan lajur khusus mobil yang kebetulan kosong. Kampretnya lagi, petugas pom malah melayaninya dengan terlebih dahulu diawali percakapan berbumbu senyam-senyum yang terlihat oleh saya sebagai ketakberdayaannya. Kau tahu, lelaki selalu takluk di hadapan perempuan cantik.

Baca Juga: Kesederhanaan itu Mahal

Saya ingin memaki-maki perempuan itu dengan bertanya di mana ia sekolah. Apakah di kandang ayam ataukah di kandang musang. Tapi, pertanyaan itu saya simpan. Dan para pengentre lain pun tidak ada yang memprotesnya. Mungkin terpesona. Padahal, saya berharap salah satu di antara mereka  ada yang menanyakan apakah ia tidak malu terhadap seragamnya. Ya, ia berseragam entah kantor apa. Saya menduga ia pegawai bank. Saya tidak bisa melihat nama perusahaanya karena bajunya dibalut jaket.

Perempuan itu pun pergi, tapi kekesalan saya tetap bertahan bahkan hingga saya menuliskannya sekarang, setelah sekitar dua tahun berlalu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar