KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Sebuah Pagi yang Kampret

Aku tidak suka kopi. Aku menyukai kerupuk. Apa boleh buat. Selera orang tidak harus sama, bukan? Sebagian di antara kalian mungkin ada yang menyukai kucing dan sebagian yang lain malah sebaliknya. Benci sebenci-bencinya. Begitulah. Dunia ini dipenuhi perbedaan-perbedaan. Sebab, kalau seragam itu namanya paskibra.

Tiap pagi, sebelum membuka laptop, teman terbaikku adalah kerupuk. Pagi itu pun demikian. Kerupuk tersebut sisa kemarin yang belum habis termakan oleh anak. Aku dan istri biasa menyisakannya untuk anak kami yang ajaibnya mewarisi tabiatku sebagai pemangsa kerupuk. Keluarga kami memang menyukai kerupuk. Aku berharap bisa mewariskannya hingga tujuh turunan.

Pagi itu, sambil mengunyah kerupuk kubuka jendela dengan perasaan malas. Aku berharap percik sinar matahari yang menelusup lewat celah-celah jendela mampu menghangatkan kepalaku, sehingga memantik ide-ide untuk menulis. Hari ini adalah hari ke-27 aku mencari gagasan untuk membuat sebuah novel.

Baca Juga: Menulis itu Sulit, Kentut yang Mudah

Sebenarnya, itu sudah menjadi rutinitasku tiap pagi. Membuka jendela, memanaskan kepala, dan mematung di depan laptop. Hingga kerupuk habis dan pagi hilang percuma, kepalaku tetap buntu. Tak ada ide yang bisa kutuliskan.

Pernah seorang teman menyarankan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum membuka laptop. Kuikuti sarannya. Tapi kegiatan itu malah membuatku keenakan jalan-jalan. Tambah lagi banyak orang jualan gorengan sepanjang jalan. Nurani saya tak tahan godaan. Habis sudah sisa waktu hanya untuk melumat tahu isi dan bulud yang hangat dan menghanyutkan.

Menulis novel adalah cita-citaku yang belum kesampaian. Sudah bertahun-tahun keinginan itu kusimpan dalam kepala. Entah ia akan bertahan sampai kapan. Aku akan terus mengikuti ritmenya, mungkin sampai aku tua nanti. Mudah-mudahan tak sebatas keinginan belaka.

Laptop di depanku tetap dengan tiga kalimat. Seperti menjadi kebiasaan, aku kesulitan mencari kata yang pas sebagai penyambungnya. Kepalaku tetap beku. Aku berdiri dari kursi, mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seorang teman lewat Whatsapp. Dia penulis cerpen yang karyanya sudah dimuat di banyak media cetak nasional.

Aku: Pagi
Dia: Pagi juga. Sampai di mana novelnya?
Aku: Sampai di hatimu.
Dia: Kampret!
Aku: :) Kasi ide dong. Mentok lagi nih.
Dia: Bakar saja laptopnya. Selesai. Nggak usah jadi penulis.
Aku: Serius dong...
Dia: Serius ya.... Kalo mentok, coba baca buku-buku penulis keren. Nggak cuma baca sih, tapi juga pelajari bagaimana caranya mereka menulis kalimat per kalimat.
Aku: Oh, gitu.
Dia: Buku Mo Yan yang kemarin kupinjamkan sudah selesai kaubaca?
Aku: Belum :)
Dia: Itu dia. Kamu memang pemalas. Balikin lusa. Kalau nggak, aku yang akan bakar laptopmu.

Sialan!
Kubanting ponselku ke atas kasur. Aku kesal. Bukan kepada temanku itu, melainkan kepada diriku sendiri. Aku menyadari bahwa selama ini aku sudah jarang membaca buku. Padahal, gizi terbaik untuk menulis adalah membaca.

Aku keluar dari kamar. Menyambangi laptop. Mematikannya. Lalu menutup jendela. Matahari sudah kian meninggi dan panasnya mulai membalut permukaan kulit. Aku beranjak ke kamar kembali setelah menyambar novel Mo Yan berjudul “Di Bawah Bendera Merah” yang tergeletak di meja. Aku berharap pemenang nobel sastra tahun 2012 itu bisa mengurai sampah-sampah yang salama ini menyumbat lubang pikiranku.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar