KELAKAR

SENGGANG

LENSA

Asal Mula Rahmatullah



Konon Rahmatullah itu terbuat dari telur cecak. 

Suatu sore yang gerimis, Raja Xajiskac Hakejalsjh dari kerajaan Dksiba yang memerintah pada 2018362 Sebelum Masehi, memanggil para pelayannya.

"Siapa di antara kalian yang bisa membuatkanku roti paling enak dari bahan-bahan yang tidak pernah dibuat sebelumnya?"

Kepala para pelayan tetap tertunduk, tanda tak mampu dan tak paham keinginan sang raja. Namun, tiba-tiba ada satu pelayan yang memecah keheningan.

"Kami tidak paham maksud Tuan," katanya.

"Tidak perlu ditafsiri yang aneh-aneh, Gajsyhakgsej. Aku hanya ingin mencicipi roti yang tidak biasa. Aku bosan dengan roti-roti yang ada. Aku ingin di antara kalian ada yang membuatkannya untukku," kata sang raja kepada pelayan itu.

"Kalau begitu, biar masing-masing kami membuatkannya untuk raja. Nanti Raja tinggal memilih mana yang paling disukai."

"Baiklah, kalau begitu."

Para pelayan mulai mencari ide untuk roti yang aneh itu. Betapa sulitnya. Bahan-bahannya juga sulit didapat karena nyaris semua bahan roti sudah pernah dibuat. Sebagian pelayan sampai harus bertapa di selangkangan kuda. Sebagian yang lain di loteng kamar mandi.

Akhirnya, tibalah waktu untuk menyuguhkan roti itu kepada raja. Para pelayan datang dengan nampan berisi roti khas masing-masing. Raja mulai mencicipi satu per satu roti itu.

Di antara sekian roti yang dijejer di atas meja panjang, roti buatan Kajrlshbajsmah lah satu-satunya yang membuat raja tertarik. Roti itu berbentuk gundukan kecil mirip celatong sapi. Di ujungnya yang lancip, terdapat telur cecak berumur 3 hari. Bahan utama roti tersebut adalah serbuk pohon bambu.

Saat mencicipi roti tersebut raja langsung jatuh hati. Ia segera memakannya dengan lahap. Matanya mengerjap-ngerjap keenakan.

Namun, saat mengunyah telur cecak mentah tersebut, mulut raja terasa ada yang aneh. Ada benda yang bergerak-gerak. Gerakan itu makin lama makin kuat. Akhirnya raja pun memuntahkannya.

Raja kaget. Para pelayan pun kaget. Benda itu menggeliat-geliat di tanah. Makin lama makin mengembang dan semakin mirip manusia. Seisi istana gempar menyaksikan bayi mungil itu tampak jelas dan nyata.

Genap 450 tahun, bayi itu lalu diberi nama Rahmatullah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar