Penyair Kampung Kami

- Juni 01, 2017
Sore itu kami datang ke sebuah rumah di batas kampung dengan sebundel puisi di tangan masing-masing. Kami baru saja dari rental print dengan perasaan bangga, kami punya karya dan kami adalah penyair.

Orang yang kami tuju sedang menyedot rokok lintingan di teras rumahnya. Asapnya yang pekat merimbuni kumis dan jenggotnya yang tebal. Di kampung kami, dia dikenal sebagai penyair hebat, meskipun tak ada karyanya yang pernah dimuat media. "Apakah karya seseorang harus dimuat media dulu baru bisa disebut penyair? Tolol". Itu pertanyaan yang sekaligus semburan si penyair kampung kami kepadaku suatu ketika, saat kami mengobrol di sore yang lain.

Penyair kampung kami ini sudah berumur 50-an tahun. Ia menjomblo dan merasa itu adalah bagian dari sebuah puisi. "Aku mencintai seorang perempuan dan ia kini sudah bersuami. Aku ingin menjalani hidup ini dengan tetap menyimpan cinta kepadanya, meskipun ia tak bersamaku. Kupikir itu adalah puisi terbaik yang harus kusimpan baik-baik," katanya suatu ketika. Mendengarnya aku tahu bahwa ia ternyata orang yang melodramatis, jauh dari kesan saat ia menghakimi puisi-puisi kami.

Sore itu kami dipersilahkan duduk. Ia masuk ke dalam rumahnya sebentar, lalu keluar dengan membawa segelas kopi berukuran besar.

"Joinan saja. Penyair tak boleh egois," katanya, mengisyaratkan kami untuk minum kopi dalam satu gelas.

"Banyak sekali puisimu," kata si penyair kampung kami kepada teman saya yang menyodorkan sebundel puisi.

"Iya, Bang. Sedang banyak inspirasi. Hehe."

Temanku itu memang sedang kasmaran. Wajar jika ia bisa menimbun banyak puisi dalam waktu singkat. Itu kelaziman yang tak bisa ditolak bangsa manusia.

Penyair kampung kami membuka-buka bundelan kertas itu, membacanya sekilas-sekilas seperti orang dinas memeriksa proposal, lalu menatap ke arahku.

"Punya kau mana?"

"Ini, Bang." Kusodorkan karyaku dengan perasaan harap-harap cemas, sebuah kondisi yang terus berulang saat kuserahkan karyaku kepada lelaki itu.

Beberapa saat setelah membaca karyaku, penyair kampung kami menatap tajam ke arah kami berdua. Temanku tampak takzim, seperti ajudan bupati yang baru saja mendapat rapor merah.

"Kalian ini bukan menulis, tapi berak." Itu ucapan singkat yang memorak-porandakan pendirian kami. Aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan oleh seorang sastrawan terkenal kepada fans-nya yang calon penulis, tapi aku lupa namanya.

Kami pulang dengan gerundelan masing-masing. Temanku tampak seperti patah hati, tapi ia mencoba tegar.
Meskipun selalu dibantai habis, kami tetap merasa perlu datang lagi kepada penyair kampung kami. Di sore beberapa hari berikutnya, temanku mengajak kembali untuk berkunjung kepadanya.

"Aku ingin menyerahkan ini," katanya sambil tersenyum.

Ia memperlihatkan lima puisinya yang terbit di sebuah koran. Kurasa ia datang bukan dengan niat mengoreksikan karyanya, melainkan ingin mempecundangi penyair kampung kami. Ia ingin katakan bahwa ungkapan-ungkapan sarkastisnya selama ini salah besar.

Saat sampai di rumah si penyair, temanku menyerahkan lembaran koran tersebut. Lelaki itu membacanya dengan tekun, lalu manggut-manggut. Bola mata temanku berbinar bahagia menyaksikan gerakan kepala itu. Ia pasti merasa si penyair menyukainya. Si penyair tetap membaca sebelum akhirnya berkata, "Kau itu tetap berak. Bedanya, kalau kemarin kau cuma berak di hadapanku, kini kau berak di hadapan banyak orang."

Sejak saat itu kami putuskan untuk tidak menjadi penyair. Aku memilih menjadi kuli bangunan dan temanku memilih mengangon kambing.
Advertisement


EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search